Internalisasi Pengasuhan Balita Upaya Cegah Stunting di Bengkulu

oleh -104 Dilihat
Plh Kepala BKKBN Bengkulu, Edi Sofyan (kiri) memberikan sambutan pada acara internalisasi pengusuhan balita sebagai upaya pencegahan stunting di Provinsi Bengkulu.(Foto HB/Idris)
Plh Kepala BKKBN Bengkulu, Edi Sofyan (kiri) memberikan sambutan pada acara internalisasi pengusuhan balita sebagai upaya pencegahan stunting di Provinsi Bengkulu.(Foto HB/Idris)

Bengkulu-Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sebagai dasar utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengembangkan program bina-bina, salah satunya program pembinaan kelompok kegiatan bina keluarga balita (BKB).

Dalam undang-undang disebutkan penduduk sebagai modal dasar dan faktor dominan pembangunan harus menjadi titik sentral dalam pembangunan berkelanjutan. Alasanya, jumlah penduduk yang besar dengan kualitas rendah dan pertumbuhan yang cepat akan memperlambat tercapainya kondisi yang ideal antara kuantitas dan kualitas penduduk dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Sebagai upaya menyasar hal tersebut, BKKBN dengan kelompok kegiatannya berupaya kuat dalam peningkatan kualitas SDM, salah satu kelompok kegiatan “Bina Keluarga Balita (BKB) sebagai bagian dari program pembangunan keluarga, kependudukan dan Bangga Kencana.

Lembaga ini dibentuk dan dikembangkan guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang anak balita sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya agar tumbuh secara ideal.

Hal tersebut disampaikan Plh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Edi Sofyan, dalam sambutannya pada pembukaan Internalisasi Pengasuhan Balita dalam rangka percepatan penurunan stunting, bertempat di kantor BKKBN Bengkulu, Selasa, (5/12/2023).

Disampaikan Edi, pembangunan SDM harus dimulai sejak dini bahkan sejak janin dalam kandungan. Karena, pada fase tersebut mulai berlangsung proses pertumbuhan dan perkembangan janin. Dalam keseluruhan siklus hidup manusia usia 0-6 tahun yang merupakan periode kritis bagi perkembangan otak yang dikenal dengan periode emas.

Pada periode inilah harus secara optimal memberikan pengasuhan yang ideal agar tumbuh anak yang sehat. Tentunya dapat dilakukan melalui penjagaan kesehatan, memperhatikan status gizi anak, memberikan stimulasi yang mencukupi serta harus dapat menyediakan lingkungan sehat.

Dewasa ini Indonesia ditengarai tentang masalah gizi ganda seperti kekurangan gizi yaitu dengan kondisi tubuh kurus (wasting) dan pendek (stunting) pada kelompok balita. Masalah lainnya seperti anemia pada remaja dan ibu hamil dan masalah obesitas alias berat badan yang tidak ideal. Atas permasalahan tersebut BKB dapat mengurai persoalan yang dihadapi bangsa tentang kependudukan.

Kelompok BKB di Bengkulu berjumlah 1.209 kelompok, terdapat di Kabupaten Bengkulu Selatan (BS) 147, Kabupaten Rejang Lebong (RL) terdapat 115 kelompok, Bengkulu Utara (BU) sebanyak 223, Kabupaten Kaur 191 kelompok, Kabupaten Seluma 144 kelompok, Mukomuko sebanyak 114 kelompok, sementara di Kabupaten Lebong 73 kelompok, Kepahiang 78 kelompok, Bengkulu tengah 54 kelompok dan Kota Bengkulu terdapat 70 kelompok BKB.

Awal Desember 2023 baru ini, Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu menggelar pertemuan internalisasi pengasuhan balita dalam rangka percepatan penurunan stunting di Provinsi Bengkulu. Prevalensi stunting alias tubuh kerdil di daerah ini masih terbilang tinggi yaitu sebesar 19,8 persen (SSGI)2022.

Pertemuan selama dua hari sejak 5-6 Desember 2023 itu untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada kader, keluarga baduta, ibu hamil, ibu menyusui serta tenaga penyuluh KB tentang pengasuhan 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dalam rangka percepatan penurunan stunting. Melalui perannya mengedukasi keluarga berisiko stunting tercatat keluarga Berisiko Stunting di Bengkulu sebanyak 330,937 keluarga.

Diharapkan BKB dapat menjawab tantangan bagi kualitas anak. Untuk diketahui yang menjadi tantangan anak di tanah air akhir ini adalah Difabel Autisme masih sebesar 4,1 persen, mental disorder 9,8 persen dan stunting masih berada pada angka 21,8 persen. Selain itu melalui perannya agar BKB dapat memberikan sumbangsih dalam pembangunan SDM menurunkan kasus kematian bayi alias Infant Mortality Rate (IMR).

IMR di Bengkulu diproyeksikan akan turun ke level rendah menjadi 11,63 kematian per 1000 kelahiran hidup pada 2035, dimana sebelumnya sebesar 19,73 di tahun 2020.(irs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.