OJK: Resiliensi Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

oleh -26 Dilihat

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas dan resiliensi sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik global serta meningkatnya tekanan inflasi. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal itu disampaikan OJK dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) yang digelar pada 1 Juli 2026.

OJK menjelaskan, meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah mengurangi tekanan di pasar energi global. Hal itu tercermin dari harga minyak yang kembali mendekati level sebelum konflik serta menurunnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.

Meski demikian, OJK mengingatkan risiko geopolitik masih perlu diwaspadai karena stabilitas kawasan tetap rentan terhadap potensi eskalasi baru.

Secara global, indikator perekonomian menunjukkan kinerja yang melampaui ekspektasi pasar, namun terjadi divergensi antarnegara di tengah tekanan inflasi yang meningkat.

Amerika Serikat dinilai masih menunjukkan ketahanan ekonomi dengan pasar tenaga kerja yang solid meski inflasi kembali meningkat. Sementara itu, Tiongkok masih menghadapi lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta.

Di Eropa, aktivitas ekonomi masih tertahan akibat lemahnya permintaan, meskipun sektor manufaktur mulai menunjukkan perbaikan.

Pada Juni 2026, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan World Bank merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 masing-masing menjadi 2,8 persen dan 2,5 persen.

Menurut OJK, proyeksi tersebut masih berpotensi menurun apabila konflik geopolitik kembali meningkat atau gangguan pasokan komoditas energi berlangsung berkepanjangan.

OJK menilai prospek pertumbuhan ekonomi global masih dibayangi lemahnya permintaan dunia, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta meningkatnya peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama (higher for longer). Kondisi tersebut memengaruhi selera risiko (risk appetite) investor di pasar keuangan global.

Di dalam negeri, indikator ekonomi mengalami moderasi seiring mulai meningkatnya tekanan inflasi. Aktivitas manufaktur yang tercermin dalam Purchasing Managers’ Index (PMI) melemah, surplus neraca perdagangan menyempit, dan cadangan devisa menurun.

Meski demikian, OJK menegaskan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter. Sejalan dengan perkembangan tersebut, stabilitas sektor jasa keuangan juga tetap kuat, didukung oleh meredanya tekanan eksternal serta respons kebijakan yang memadai.

 

Editor :  Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.