ISEF 2026 Perkuat Ekonomi Syariah, BI Bengkulu Kembangkan Wakaf Produktif

oleh -11 Dilihat

Bengkulu– Bank Indonesia (BI) mendorong penguatan ekonomi dan keuangan syariah melalui pengembangan industri halal, perluasan akses pembiayaan, serta optimalisasi zakat dan wakaf produktif.

Di Bengkulu, upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui program Wakaf TRENDI yang mendorong kemandirian ekonomi pondok pesantren.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat keuangan sosial syariah agar tidak hanya berfungsi sebagai instrumen sosial, tetapi juga mampu mendukung kegiatan ekonomi produktif dan berkelanjutan.

Penguatan ekonomi syariah secara nasional dibahas dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).

Mengusung semangat “Kebaikan untuk Semua”, kegiatan ini menghadirkan lebih dari 100 agenda secara luring dan daring serta melibatkan lebih dari 1.000 pelaku industri halal.

ISEF 2026 mengangkat tema percepatan pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah berkelanjutan melalui sinergi dan transformasi digital. Forum ini mempertemukan pemerintah, regulator, lembaga keuangan, pelaku usaha, akademisi, dan mitra internasional untuk memperkuat rantai nilai halal serta memperluas inklusi keuangan syariah.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Bank Indonesia meluncurkan tiga inisiatif untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional.

Ketiga inisiatif itu meliputi Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC) sebagai pedoman transaksi pasar keuangan syariah, pembaruan Zakat Core Principles (ZCP) 2.0 untuk memperkuat tata kelola zakat, serta program beasiswa internasional melalui pemanfaatan dana sosial syariah.

Ketiga program tersebut diharapkan meningkatkan integritas pasar keuangan syariah, memperkuat manajemen risiko pengelolaan zakat, serta memperluas pemanfaatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) untuk mendukung pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, pengembangan ekonomi syariah masih memiliki ruang yang besar, terutama dalam memperluas pangsa pasar keuangan syariah, memperdalam pasar, dan meningkatkan literasi masyarakat.

“Capaian ini menjadi fondasi, bukan garis akhir, karena masih terbuka ruang besar untuk meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah, memperdalam pasar, dan memperluas literasi, sehingga diperlukan akselerasi melalui sinergi dan transformasi digital,” ujar Destry.

Potensi ekonomi syariah global juga dinilai masih terbuka. Proyeksi belanja masyarakat muslim dunia diperkirakan mencapai 3,56 triliun dolar AS pada 2029. Peluang tersebut mendorong perlunya penguatan industri halal, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ekspor, serta kerja sama internasional.

Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026, Indonesia berada di peringkat keempat dunia. Di dalam negeri, rantai nilai halal tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, penerbitan green sukuk Indonesia sejak 2018 tercatat mencapai 7,7 miliar dolar AS di pasar global dan Rp108,9 triliun di pasar domestik per Juni 2026.

Wakaf Produktif di Bengkulu

Sejalan dengan agenda nasional tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu memperluas edukasi ekonomi dan keuangan syariah melalui berbagai kegiatan literasi, termasuk rangkaian Bengkulu Road to Festival Ekonomi Syariah (BERKAH) dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan daerah.

Edukasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai prinsip ekonomi syariah, produk dan layanan keuangan syariah, serta manfaat keuangan sosial syariah dalam pemberdayaan ekonomi.

Selain edukasi, BI Bengkulu mengembangkan Wakaf TRENDI atau Wakaf Produktif Pesantren untuk Pengendalian Inflasi. Program ini mendorong pemanfaatan dana wakaf untuk membangun unit usaha produktif di tiga pondok pesantren di Provinsi Bengkulu.

Program tersebut mencakup budidaya cabai di Pondok Pesantren EHQ, pengembangan hidroponik di Pondok Pesantren Abdurrahman Al-Fatih, serta peternakan ayam petelur di Pondok Pesantren Al Karim.

Melalui kegiatan tersebut, pesantren diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi, menyediakan sumber manfaat berkelanjutan bagi santri dan masyarakat, serta membantu menjaga ketersediaan pasokan pangan daerah.

Pengembangan usaha produktif berbasis pesantren juga berpotensi memperluas pemanfaatan wakaf untuk kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat jangka panjang.

Selain mendukung kemandirian lembaga pendidikan keagamaan, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha dan memperkuat pemberdayaan masyarakat di sekitarnya.

Pada tingkat nasional, ISEF 2026 turut menghadirkan business matching perdagangan dan wastra, Forum Bisnis Pesantren, serta forum mengenai industri halal, zakat, wakaf, pembiayaan haji, dan pariwisata ramah muslim.

Penyelenggaraan tahun ini juga memperluas kolaborasi dengan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 dan memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan partisipasi generasi muda.

Di antaranya melalui kompetisi Video Kreatif Ekonomi Syariah (VITRAH) dan ISEF World Island pada platform Roblox.

Sinergi antara kebijakan nasional dan inovasi daerah diharapkan mampu memperluas manfaat ekonomi syariah, mulai dari penguatan industri halal hingga peningkatan kemandirian ekonomi pesantren dan kesejahteraan masyarakat.

Informasi mengenai program dan rangkaian kegiatan ISEF dapat diakses melalui situs resmi www.isef.co.id dan aplikasi ISEFun Apps.

 

Editor : Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.