Fidiyanto, Anak Muda yang Menawarkan Harapan Baru bagi Desa Westkust

oleh -35 Dilihat

Kepahiang — Perubahan desa tidak selalu harus dimulai dari gedung pemerintahan yang megah atau program pembangunan bernilai besar.

Terkadang, perubahan justru berawal dari gagasan sederhana: pelayanan yang mudah, warga yang kompak, dan anak muda yang diberi ruang untuk berkarya.

Gagasan itulah yang dibawa Fidiyanto, seorang figur muda yang namanya mulai dikenal di kalangan warga Desa Westkust, Kabupaten Kepahiang. Dengan mengusung semangat maju bersama, ia menawarkan harapan tentang desa yang lebih terbuka, pelayanan yang lebih mudah diakses, serta kehidupan masyarakat yang bertumpu pada kebersamaan.

Bagi Fidiyanto, memimpin desa bukan semata-mata soal menduduki jabatan. Kepemimpinan, dalam pandangannya, harus hadir untuk menjawab kebutuhan warga. Pemerintahan desa perlu bekerja secara efektif, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Salah satu gagasan yang ditawarkannya adalah menghadirkan pelayanan masyarakat yang mudah dan akuntabel. Di tengah perkembangan teknologi digital, pelayanan publik semestinya tidak lagi berbelit-belit.

Pemanfaatan teknologi dan sistem daring dapat menjadi jalan untuk memangkas hambatan administrasi, sepanjang disertai kesiapan perangkat, sumber daya manusia, dan pendampingan bagi warga yang belum terbiasa menggunakan layanan digital.

Gagasan tersebut menjadi penting bagi desa yang ingin bergerak mengikuti perkembangan zaman. Teknologi bukan sekadar simbol kemajuan, melainkan alat untuk mendekatkan pemerintah kepada masyarakat.

Namun, kemajuan desa tidak cukup hanya mengandalkan perangkat digital. Ada modal sosial yang tidak kalah penting, yakni gotong royong.

Bagi Fidiyanto, semangat gotong royong merupakan fondasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Ketika warga bersedia bekerja bersama, persoalan yang terasa berat dapat dihadapi dengan lebih ringan. Hubungan antartetangga pun terpelihara melalui kebiasaan saling membantu.

Gotong royong juga memiliki makna lebih luas daripada sekadar bekerja bersama dalam kegiatan pembangunan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan kepedulian.

“Nilai-nilai itulah yang perlu dijaga agar pembangunan desa tidak hanya menghasilkan perubahan fisik, tetapi juga memperkuat ikatan sosial masyarakat,”  ujar Fidiyanto alias Dian peserta Nomor 1 Pilkades  Westkust ini.

Di sisi lain, Fidiyanto menaruh perhatian pada peran generasi muda. Ia melihat pemuda sebagai salah satu kekuatan yang dapat menentukan arah perkembangan desa. Energi, kreativitas, dan keberanian mencoba hal baru merupakan modal yang perlu disalurkan melalui kegiatan positif dan produktif.

Pemuda, menurut gagasan yang ditawarkannya, tidak seharusnya hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk terlibat, menyampaikan ide, serta mengembangkan potensi yang dimiliki.

Ruang kreativitas tersebut juga dapat membuka peluang ekonomi. Anak muda yang mampu mengembangkan keterampilan dan membaca kebutuhan pasar berpotensi melahirkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari kegiatan ekonomi berbasis kreativitas, desa dapat menumbuhkan sumber penghasilan baru sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi warganya.

Tentu, gagasan semacam itu membutuhkan dukungan yang nyata. Kreativitas pemuda perlu diikuti dengan pembinaan, akses terhadap informasi, pendampingan usaha, dan kesempatan untuk memasarkan produk.

Pemerintah desa dapat berperan sebagai penghubung agar potensi yang ada tidak berhenti sebagai wacana.

Di sinilah tantangan bagi seorang pemimpin muda: mengubah gagasan menjadi program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Usia muda memang tidak otomatis menjamin keberhasilan memimpin. Namun, pengalaman, kemauan belajar, kemampuan membangun komunikasi, serta kesanggupan bekerja bersama masyarakat dapat menjadi bekal penting untuk menjalankan pemerintahan desa.

Fidiyanto membawa harapan itu melalui tiga gagasan utama: pelayanan yang mudah dan akuntabel, penguatan gotong royong, serta pemberdayaan pemuda.

Ketiganya saling berkaitan. Pelayanan yang baik membutuhkan pemerintahan yang terbuka, pembangunan membutuhkan partisipasi warga, sedangkan keberlanjutan desa memerlukan generasi muda yang kreatif dan produktif.

Bagi masyarakat Desa Westkust, gagasan tersebut menawarkan ruang untuk membayangkan masa depan desa yang lebih baik. Akan tetapi, harapan pada akhirnya harus diuji melalui pelaksanaan program, keterbukaan pengelolaan anggaran, dan kesediaan pemimpin mendengar aspirasi warga.

Jika dipercaya memimpin, pekerjaan Fidiyanto bukan sekadar memperkenalkan ide-ide baru. Ia juga harus memastikan gagasan itu berjalan, melibatkan masyarakat, dan memberikan hasil yang terukur.

Sebab, desa yang maju tidak dibangun oleh satu orang saja. Ia tumbuh dari kepemimpinan yang bekerja, masyarakat yang terlibat, dan generasi muda yang mendapatkan kesempatan untuk berbuat.

Bagi Westkust, semangat maju bersama akan menemukan maknanya ketika harapan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjelma menjadi perubahan yang membawa kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. (hcr/min)

 

Editor  : Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.