Diduga Balita Stunting, Gubernur Rohidin Minta Dinas Terkait Segera Intervensi

oleh -240 Dilihat
Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah (Foto/Ist)
Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah (Foto/Ist)

Bengkulu– Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah minta dinas-dinas teknis yang terkait penanganan stunting di Bengkulu, untuk segera mengintervensi keluarga atau bayi yang terendus berpotensi stunting di Kota Bengkulu baru ini.

Pasalnya, penanganan stunting atau gangguan pertumbuhan dan perkembangn pada anak harus dilakukan secara kolaboratif, hulu dan hilirnya harus terintegrasi lintas sektor, kata Gubernur Bengkulu saat ditanya wartawan di Balai Semarak terkait ditemukannya bayi lahir diduga mengalami kekuranan gizi dan berpotensi stunting di Kota Bengkulu, Rabu (17/5/2023).

Seperti diketahui baru-baru ini, di Kota Bengkulu ditemukan bayi lahir yang diduga kuat mengalami gizi buruk dan berpotensi besar mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan mental pada anak alias stunting.

Sebab, salah satu penyebab stunting adalah akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama bahkan sejak dalam kandungan. Stunting masih dapat diatasi terhadap anak hingga usia di bawah lima tahun. Penanganan stunting dapat dilakukan melalui intervensi spesifik dan sensitif yang memerlukan aksi konvergensi multi sektor.

Dikatakan Gubernur Rohidin, untuk menurunkan kasus tersebut tidak dapat bisa cepat, tetapi harus dilakukan secara simultan dalam waktu yang cukup panjang serta memerlukan aksi gotong royong oleh banyak pihak, ujar Gubernur usai menerima kunjungan kerja Kepala BKKBN Bengkulu di Balai Semarak Kota Bengkulu, Rabu, 17/5.

“Stunting ini harus dilakukan secara kolaboratif, hulu dan hilirnya terintegrasi. Dan tentu penanganannya tidak bisa cepat tapi harus dilakukan secara simultan dalam waktu yang cukup panjang,” kata Gubernur Rohidin kepada wartawan di Bengkulu.

Menyoal ditemukannya kasus stunting di Kota Bengkulu baru-baru ini, Gubernur Rohidin mengatakan bahwa kasus tersebut pasti dampak dari perilaku dua atau tiga tahun lalu. Maka dari itu penanganannya yang sifatnya kuratif harus segera dilakukan, kata Rohidin.

“Jika nanti dipastikan berpotensi stunting maka saya minta dinas-dinas terkait seperti kesehatan, badan perlindungan anak agar segera turun bersama-sama untuk mengintervensi keluarga berpotensi risiko stunting, penanganan dari sisi kesehatan harus segera dilakukan,” tegas Gubernur.

Gizi buruk dan Stunting

ASA warga Kota Bengkulu kini belum genap usia 4 bulan sejak lahir pada 29-Januari-2023 lalu, kini kondisi kesehatannya masih belum membaik. Iantaran kedua orangtuanya yng masih berusia anak 13 tahun serta mengalami keterbelakangan mental juga keluarga miskin.

ASA dilahirkan di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bengkulu dari kedua. Dengan status orangtua miskin, ia lahir dengan berat badan 1,700 gram dan panjang 44 sentimeter. Dan lebih menyedhkan lagi ASA terpaksa pulang karena keterbatasan biaya perawatan di salah satu fasilitas kesehatan di Kota Bengkulu

“Akibat keterbatasan ekonomi ASA hanya satu hari dirawat di rumah sakit lalu dipulangkan. Salah seorang keluarga orang tua bayi, Marwan S (45), kepada wartawan via cellular di Bengkulu”.

Sehari setelah viral berita tentang ASA di media massa, pada Kamis malam Marwan S (45) kembali menyampaikan kekecewannya terhadap Pemerintah Kota yang mengintervensi keluarga untuk tidak terus membuat gaduh dengan berita-berita di media massa. Dan bahkan telah memesan media untuk berita terbalik dengan kondisi sebenarnya.

“Mestinya pihak Pemkot tidak merasa kebakaran jenggot untuk menari kebenaran, peristiwa ASA ini kan sudah sejak Januari lalu tetapi mengapa setelah mencuat baru ada aksi yang serta merta menyalahkan pihak lain, sesal Marwan. Namun ia mengapresisi atas empati dan simpati banyak pihak atas kasus ASA dengan sydah mendatangi dan memeriksa langsung kondisi keluarga ASA setelah mengetahui melalui media massa, akhirnya.(irs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.