Bengkulu Tengah Angkat Warisan Budaya Lewat Malam Maroba Berbinar

oleh -48 Dilihat

Bengkulu Tengah– Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah memperingati Hari Kebudayaan Nasional melalui kegiatan Malam Maroba Berbinar dengan menampilkan tiga kesenian tradisional, yakni Sarafal Anam, Berejung, dan Bubu Gile. Kegiatan berlangsung di halaman Kantor Bupati Bengkulu Tengah, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah melestarikan warisan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Acara dihadiri Bupati Bengkulu Tengah Rachmat Riyanto, Ketua DPRD Fepi Suheri, Sekretaris Daerah Tomi Marisi, Ketua TP PKK Bengkulu Tengah Susilo Damarini Rachmat, Ketua IKBD Fitri Suheri, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, seniman, serta undangan lainnya.

Rangkaian acara diawali dengan Apel Malam Berbinar yang dipimpin Sekretaris Daerah Bengkulu Tengah Tomi Marisi. Dalam arahannya, Tomi mengingatkan seluruh OPD agar mengikuti jadwal kegiatan dan hadir tepat waktu demi kelancaran acara.

Menurut dia, Malam Berbinar tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang interaksi antara pemerintah daerah dan warga melalui seni, budaya, serta kreativitas lokal.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkulu Tengah Parli Septiadi mengatakan, kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama dengan Sanggar Pancamukti, Balai Pelestarian Kebudayaan, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkulu Tengah.

Mengusung tema “Merawat Warisan, Merajut Keberagaman, Membangun Peradaban”, kegiatan ini menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Penampilan dibuka dengan kesenian Sarafal Anam dari Desa Tanjung Terdana dan Kecamatan Merigi Kelindang. Bupati Bengkulu Tengah Rachmat Riyanto mengapresiasi para seniman yang tampil, terutama keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan tersebut.

“Yang paling membahagiakan bukan hanya penampilannya, tetapi juga bagaimana anak-anak kita yang masih berusia 10 tahun ke bawah mampu tampil dengan luar biasa. Mereka berani, percaya diri, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya,” kata Rachmat.

Menurut dia, keterlibatan anak-anak dalam kegiatan seni menjadi salah satu cara untuk memastikan tradisi tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui ruang belajar dan kesempatan tampil, anak-anak dapat mengenal kebudayaan daerah sekaligus meneruskan keterampilan para seniman senior.

Rachmat mengatakan, Bengkulu Tengah memiliki potensi kesenian tradisional yang besar. Salah satunya Sarafal Anam yang masih berkembang dan dipertahankan oleh masyarakat.

“Dari pengamatan saya, ada sekitar 70 grup Sarafal Anam yang masih aktif. Ini menunjukkan bahwa Bengkulu Tengah memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan masyarakatnya memiliki kesungguhan untuk terus menjaga serta menampilkan tradisi tersebut,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah akan terus mendukung upaya pelestarian kebudayaan agar warisan leluhur tetap dikenal dan dinikmati generasi mendatang.

Setelah Sarafal Anam, acara dilanjutkan dengan penampilan Berejung yang dibawakan Suhayani dari Desa Tanjung Terdana. Kesenian tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi seni tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Bengkulu Rahma Dewi mengatakan, Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan menggelar peringatan Hari Kebudayaan secara serentak di sembilan kabupaten dan kota serta tingkat Provinsi Bengkulu.

Menurut Rahma, kegiatan itu merupakan bentuk kolaborasi pemerintah, maestro dan pelaku budaya, komunitas kebudayaan, serta masyarakat untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya.

Ia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan di Bengkulu Tengah yang menampilkan Sarafal Anam, Berejung, dan Bubu Gile. Ketiga kesenian tersebut dinilai menunjukkan bahwa tradisi lokal masih hidup dan terus diwariskan.

Rahma menjelaskan, peringatan Hari Kebudayaan mengusung tema “Budaya Hidup, Indonesia Bergaya” dengan tiga pilar, yakni berakar, bertumbuh, dan berbuah.

Berakar berarti mengenali asal-usul dan menghormati para penjaga tradisi. Bertumbuh dimaknai sebagai upaya mempraktikkan kebudayaan, membuka ruang partisipasi, dan menciptakan karya. Adapun berbuah berarti menghadirkan manfaat kebudayaan untuk mempererat kebersamaan dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pertunjukan Bubu Gile, kesenian tradisional masyarakat Suku Lembak di Bengkulu Tengah yang terinspirasi dari alat perangkap ikan berupa bubu. Tradisi yang memanfaatkan bahan-bahan alam itu dikembangkan menjadi pertunjukan budaya yang unik.

Selain menjadi hiburan, Bubu Gile merepresentasikan hubungan masyarakat dengan alam dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Melalui Malam Maroba Berbinar, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga warisan budaya semakin kuat. Pelestarian budaya juga diharapkan dapat memperkokoh identitas daerah dan menjadikan keberagaman sebagai modal membangun Bengkulu Tengah yang berkarakter dan bermartabat.(MC)

 

Editor. : Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.