Dari Kebun ke Pasar Global, UMKM Kopi Bengkulu Mulai Naik Kelas

oleh -9 Dilihat

 SEBUTIR biji kopi dari kebun-kebun dataran tinggi Ranah Rejang kini memiliki perjalanan yang lebih panjang. Dari tangan petani, komoditas itu dihimpun UMKM dan koperasi, diproses menjadi produk siap pasar, hingga akhirnya menyeberang ke Italia.

Perjalanan tersebut ditandai dengan ekspor perdana 19,2 ton kopi robusta Bengkulu ke Italia dengan nilai sekitar US$71.000 atau Rp1,26 miliar.

,Bagi Bengkulu, pengiriman itu bukan sekadar catatan ekspor baru. Lebih jauh, ekspor tersebut menjadi gambaran bagaimana UMKM daerah mulai didorong keluar dari pasar lokal menuju rantai perdagangan global.

Kopi yang diekspor PT Alka Sumatera Bengkulu tersebut berasal dari Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong, dan Lebong. Komoditas dihimpun dari koperasi, UMKM, serta petani yang mendapatkan pendampingan Bank Indonesia (BI) Bengkulu.

Di balik 19,2 ton kopi yang dikirim ke Italia terdapat proses panjang untuk mempertemukan produk lokal dengan kebutuhan pasar internasional.

Bagi pelaku UMKM, persoalannya bukan semata menghasilkan kopi. Mereka harus mampu menjaga kualitas, memenuhi permintaan pasar, mempertahankan kontinuitas pasokan, membangun kelembagaan usaha, sekaligus menemukan pembeli yang dapat menjadi mitra jangka panjang.

Inilah tantangan utama untuk membuat UMKM benar-benar naik kelas.
Ekspor Menjadi Pembuktian

Bengkulu memiliki modal besar untuk mengembangkan industri kopi.
Provinsi ini merupakan salah satu sentra produksi kopi nasional, dengan produksi sekitar 54.000 ton per tahun dari luas perkebunan sekitar 32.000 hektare.

Kawasan dataran tinggi menjadi basis produksi kopi robusta dan arabika yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Namun, produksi yang besar tidak serta-merta menghasilkan nilai tambah yang besar bagi pelaku usaha dan petani.

Komoditas pertanian memiliki rantai perdagangan yang panjang. Semakin kuat posisi pelaku usaha di dalam rantai tersebut, semakin besar pula peluang mendapatkan nilai tambah.

Karena itu, ekspor kopi ke Italia menjadi semacam pembuktian bahwa produk UMKM Bengkulu memiliki peluang memasuki pasar yang lebih luas.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat mengatakan ekspor perdana tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu pengiriman.

Harapannya, pasar yang sudah terbuka dapat dilanjutkan dengan transaksi berikutnya sehingga menciptakan permintaan yang berkelanjutan.

Bagi UMKM, keberlanjutan pasar menjadi jauh lebih penting dibandingkan sekadar keberhasilan mendapatkan pembeli pertama.

11 UMKM Dikurasi

Untuk mendorong proses tersebut, BI Bengkulu pada 2026 melakukan kurasi terhadap 11 UMKM kopi dengan kategori premium dan fine.

UMKM yang telah melalui proses kurasi kemudian difasilitasi mengikuti business matching ekspor bersama agregator dan calon pembeli.

Langkah ini memperlihatkan bahwa proses membawa produk daerah ke pasar global tidak dapat dilakukan secara instan.
Produk harus terlebih dahulu dipersiapkan. Kapasitas pelaku usaha perlu diperkuat. Kualitas harus dijaga. Kelembagaan harus dibangun. Setelah itu, akses terhadap pasar diperluas.

BI Bengkulu mengembangkan pembinaan UMKM melalui tiga pilar, yakni korporatisasi, kapasitas, dan pemberdayaan.

Korporatisasi diarahkan untuk memperkuat kelembagaan dan kemitraan. Peningkatan kapasitas ditujukan untuk memperbaiki kualitas dan kemampuan usaha. Sementara pemberdayaan diarahkan untuk memperluas akses pasar.

Ketiga aspek tersebut menjadi penting karena UMKM yang ingin masuk ke pasar ekspor tidak cukup hanya memiliki produk yang bagus.

Mereka juga harus mampu memenuhi permintaan dalam jumlah dan kualitas yang konsisten.

Pasar Tidak Berhenti di Italia

Ekspor ke Italia menjadi pintu awal. Peluang pasar lainnya juga mulai dijajaki.
BI Bengkulu telah mempertemukan petani kopi Kepahiang dengan pelaku industri kopi, termasuk jaringan kedai Starbucks dan Tomoro Coffee.

Pertemuan dengan industri memberikan peluang bagi petani dan UMKM untuk memahami kebutuhan pasar secara lebih langsung.

Ada perbedaan antara menjual kopi sebagai komoditas dan menjual kopi sebagai produk yang memiliki identitas.

Ketika kualitas, asal-usul, pengolahan, kemasan, dan merek mulai diperhatikan, nilai produk ikut berubah.

UMKM  Memiliki Ruang Naik Kelas

Mereka tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi dapat berkembang menjadi pelaku usaha yang memiliki produk, merek, pasar, dan jaringan bisnis.

BI mendorong berbagai produk lokal lain agar mampu meningkatkan nilai tambah dan memperluas pasar. Wastra, batik tradisional, kain tenun, songket hingga produk pangan menjadi bagian dari ekosistem UMKM yang terus dikembangkan.

Dalam ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, BI Bengkulu memfasilitasi 32 UMKM melalui kegiatan daring dan luring.

Produk yang ditampilkan antara lain kain besurek, batik Kagano, giwigiwi, sari aren, kerupuk ke’ite, dan Lestari Coffee.

Dari kegiatan tersebut, total transaksi penjualan tercatat mencapai Rp955,4 juta.
Angka itu menunjukkan bahwa ketika UMKM mendapatkan akses promosi, jejaring bisnis dan pasar, produk lokal memiliki ruang untuk menghasilkan transaksi yang lebih besar.

Persoalannya kini bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi barang.
Tantangannya adalah bagaimana membangun produk yang memiliki daya saing, merek yang kuat, kualitas yang konsisten dan pasar

Dalam kegiatan BI bersama wartawan ekonomi di Curup pada September 2026, para jurnalis diajak mengenal kopi lebih dekat melalui praktik meracik kopi bersama barista lokal

Tiga Barista Berpengalaman

Memperkenalkan teknik menyeduh dan meracik kopi, termasuk cappuccino.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kopi Bengkulu melalui pengalaman langsung.

Bagi BI, media memiliki peran dalam memperluas informasi mengenai produk dan potensi UMKM daerah.

Ketika sebuah produk semakin dikenal, peluang membangun brand awareness juga semakin terbuka.

Bagi UMKM, promosi bukan lagi sekadar pelengkap. Di tengah perdagangan digital, kemampuan membangun merek dan menjangkau konsumen menjadi bagian dari strategi

Naik Kelas Tidak Cukup Sekali Ekspor

Ekspor Ekspor 19,2 ton kopi ke Italia menjadi langkah penting bagi UMKM Bengkulu. Namun, satu kali pengiriman belum cukup untuk menyebut sebuah ekosistem UMKM telah mapan.

Pekerjaan berikutnya justru lebih panjang.
UMKM perlu menjaga kualitas dan kontinuitas produksi. Koperasi harus mampu memperkuat posisi petani. Akses pembiayaan perlu terus dibuka. Sementara jaringan pasar harus diperluas agar permintaan tidak berhenti setelah satu transaksi.

Bagi petani, ukuran keberhasilan akhirnya bukan sekadar berapa ton kopi yang berhasil dikirim ke luar negeri.
Yang lebih penting adalah apakah terbentuk pasar yang berkelanjutan, apakah posisi tawar meningkat, dan apakah nilai tambah dari perdagangan tersebut ikut dirasakan di tingkat usaha dan petani.

Kepala Perwakilan BI Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat berharap ekspor ke Italia dapat menjadi awal bagi pengiriman berikutnya.

Jika itu terjadi, 19,2 ton kopi tidak lagi sekadar menjadi angka dalam catatan ekspor Bengkulu.

Ia menjadi penanda bahwa UMKM dari daerah mulai menemukan jalan menuju pasar global.. Kini tantangannya adalah memastikan langkah pertama tersebut berkembang menjadi rantai bisnis yang panjang, berulang, dan memberi nilai tambah lebih besar bagi UMKM serta petani Bengkulu.

 

Pemprov Apresiasi Ekspor Kopi

Pemerintah Provinsi Bengkulu mengapresiasi Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu yang mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga berhasil mengekspor 19,2 ton kopi ke Italia senilai sekitar Rp1,2 miliar.

Wakil Gubernur Bengkulu Mian mengatakan ekspor tersebut menjadi langkah penting dalam membuka akses kopi daerah ke pasar Eropa.

“Pemprov Bengkulu mengapresiasi Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu yang menginisiasi sejumlah UMKM melaksanakan ekspor kopi ke Italia. Berkat kerja keras dan dukungan BI Bengkulu, kita bisa mengekspor kopi ke Eropa, khususnya Italia,” kata Mian.

Ia berharap ekspor dapat dilakukan secara rutin dengan volume yang semakin besar sehingga meningkatkan pendapatan UMKM dan petani sekaligus menambah devisa bagi daerah.

Apresiasi juga disampaikan Bupati Kepahiang Zurdi Nata kepada Kepala Perwakilan BI Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat atas dukungan terhadap pengembangan kopi Kepahiang hingga menembus pasar Italia.

“Terima kasih kepada Kepala Perwakilan BI Bengkulu, Pak Wahyu, atas kerja keras dan dukungannya sehingga kopi Kepahiang tembus pasar Italia. Kami akan bekerja keras agar ekspor kopi terus berlanjut ke banyak negara,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan ekspor perdana tersebut menjadi momentum untuk memperluas pasar kopi Kepahiang sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas bagi pelaku usaha dan petani. (HB/Usmin)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.