BKKBN Bengkulu Gelar Workshop 1001 Cara Bicara Remaja Bangun Komunikasi Efektif

oleh -154 Dilihat
Ketua Kelompok Kerja GenRe BKKBN Bengkulu, Edi Sofyan saat membuka acara Workshop parenting 1001 cara bicara pemuda untuk memberikan pelatihan kepada para kader BKR dan PKB.(Foto HB/Idris)
Ketua Kelompok Kerja GenRe BKKBN Bengkulu, Edi Sofyan saat membuka acara Workshop parenting 1001 cara bicara pemuda untuk memberikan pelatihan kepada para kader BKR dan PKB.(Foto HB/Idris)

Bengkulu- Peran remaja selain menjadi agen perubahan juga agen pembangunan, yang mana pemuda memiliki peran dan tanggung jawab dalam pembangunan di berbagai macam bidang, baik pembangunan nasional maupun pembangunan daerah. Tentunya meraih hal tersebut memerlukan hadirnya pemuda yang berkualitas.

Dalam penyiapan generasi muda yang berkualitas dan menjadi penerus pembangunan berkelanjutan, selain perlunya penyiapan pendidikan juga sangat dibutuhkan sikap dan perilaku remaja yang positif. Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu pada pertengahan September 2023 baru ini mengembangkan teknis komunikasi atau cara bicara orang tua kepada remaja. Dengan menggelar “Workshop 1001 Cara Bicara Pada Remaja”.

“Untuk membangun komunikasi efektif orangtua terhadap generasi muda, BKKBN menggelar ” Workshop 1001 Cara Bicara Pada Remaja”. Yang melibatkan sebanyak 30 orang peserta dari unsur Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan kader Bina Keluarga Remaja (BKR) dari sejumlah daerah kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu, kata Ketua Kelompok Kerja GenRe BKKBN Bengkulu, Edi Sofyan,kepada pewarta di Bengkulu, Rabu, pekan lalu.

Workshop parenting 1001 cara bicara bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada kader BKR dan PKB yang nantinya diharapkan dapat mengimplementasikannya di masing-masing daerah. Sehingga menjadikannya sebagai salah satu media edukasi penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja.

Di Bengkulu, dari populasi penduduk mencapai dua juta jiwa lebih itu, terdapat sejuta lebih penduduk usia muda. Penduduk generasi Post Zillenial mencapai 228 ribu jiwa, Generasi Zillenial; (Gen-Z) sebanyak 581.970 jiwa dan Generasi Millenial mencapai 536.067 jiwa. Pembinaan terhadap generasi tersebut memerlukan bimbingan teknik komunikasi yang efektif,” ujar Edi Sofyan.

Membangun komunikasi efektif kepada remaja di tengah kemajuan teknologi dewasa ini, akan membantu perkembangan generasi muda dalam berkepribadian positif dan mudah diterima lingkungan. Karena, pada era ini tidak sedikit tentangan dan kendala yang dihadapi dalam implementasi pembinaan ketahanan remaja. Diantaranya, pembinaan remaja belum prioritas di tatanan pemerintah. Sehingga berdampak pada lambatnya perkembangan dan keberlangsungan lembaga pendidikan non formal seperti Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R), sebut Edi.

Dalam prinsip pembangunan berkelanjutan yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas SDM dan keluarga berperan penting dalam menghasilkan SDM Indonesia berkualitas. Keluarga harus mampu menjadi tempat pertama dan utama dalam memastikan terpenuhinya kebutuhan tumbuh kembang serta pendidikan di segala aspek bagi setiap anggotanya.

Dalam konteks pembangunan manusia, pembinaan ketahanan remaja memiliki peran strategis. Karena remaja merupakan individu-individu calon penduduk usia produktif. Yang pada saatnya nanti akan menjadi subjek pembangunan, sehingga perlu penyiapan generasi muda sebagai SDM yang berkualitas.

“Pembinaan ketahanan remaja merupakan bagian dari kebijakan pembangunan keluarga yang dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja agar mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana, berkarier dalam pekerjaan serta mampu merencanakan pernikahan sesuai dengan fase reproduksi sehat”.

Sasaran akhir dari pembinaan dan pembangunan remaja dimana agar remaja atau pemuda mampu melewati lima transisi kehidupan. Pertama, remaja mampu mempraktikkan hidup bersih dan sehat, mampu melanjutkan jenjang pendidikan, mampu berkarier, mampu menjadi anggota masyarakat yang baik serta dapat membangun keluarga yang berkualitas.

“Selain itu remaja diharapkan dapat menghindari tiga bahaya laten yang mengancam masa depan generasi muda yaitu seks pra nikah, pernikahan usia anak di bawah 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun remaja pria. Dan mampu menghindari pengaruh penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA).(irs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.