Bengkulu – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menyiapkan pengembangan ekowisata di Taman Wisata Alam (TWA) Sebelat, Kabupaten Bengkulu Utara, melalui keterlibatan masyarakat desa di sekitar kawasan.
Kepala BKSDA Bengkulu Agung Nugroho mengatakan proses pengembangan ekowisata tersebut telah dilakukan sejak 2024 hingga 2025 dan saat ini memasuki tahap finalisasi bahan pengembangan ekowisata di TWA Sebelat.
“Yayasan Konservasi Elang Indonesia dilibatkan sebagai konsultan untuk membantu menyusun program pengembangan ekowisata agar pelaksanaannya dapat berjalan sesuai dengan rencana yang diharapkan,” kata Agung. saat membuka Forum Grup Diskusi Pengembangan Ekowisata TWA Sebelat terintegasi BKSDA Bengkulu, bertempat di Hotel Amaris, Rabu (17/9/2026l.
Ia menjelaskan terdapat empat lembaga dari lima desa yang menjadi sasaran kegiatan pengembangan ekowisata tersebut. Keterlibatan lembaga masyarakat lewat lima koperasi, satunya kopersi primer diharapkan dapat memperkuat pengelolaan wisata berbasis desa sekaligus membangun hubungan dengan BKSDA sebagai pengelola kawasan konservasi.
Menurut dia, keberadaan TWA pada prinsipnya dapat mendukung kegiatan ekowisata yang berkaitan dengan lingkungan dan alam. Sejumlah kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain pengamatan satwa, kegiatan berburu foto dan menikmati bentang alam, pengamatan tumbuhan, susur sungai serta kegiatan edukasi konservasi.

“Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan alam dapat dilakukan di dalam kawasan TWA sepanjang sesuai dengan ketentuan dan fungsi kawasan konservasi,” ujarnya.
Agung mengatakan TWA Sebelat juga memiliki potensi khusus sebagai kawasan habitat gajah. Saat ini terdapat sekitar 10 ekor gajah yang terdata di kawasan tersebut, terdiri atas tujuh ekor jantan dan tiga ekor betina.
Keberadaan satwa tersebut, kata dia, dapat menjadi bagian dari kegiatan edukasi konservasi sekaligus dikembangkan secara terbatas sebagai daya tarik ekowisata dengan tetap memperhatikan aspek perlindungan satwa dan kelestarian habitatnya.
Ia menambahkan pembentukan lembaga masyarakat di desa sekitar kawasan menjadi salah satu upaya agar masyarakat dapat mengambil peran dalam pengembangan ekowisata.
“Lembaga-lembaga tersebut berada di desa dan diharapkan menjadi pendukung pengelolaan kawasan, sehingga konsep wisata berbasis desa dapat berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” katanya.
Ia menqmbahkan, selama ini TWA Sebelat sudah banyak dikunjungi masyarakat atau wisatawan dari berbagai daerah du Bengkulu, tapi tingkat kunjungan masih belum maksimal karena belum kelola secara profesional dan masyarakat desa sekitar kawasan ekowisata tersebut.
Meski demikian, kata Agung darichaail kinjungan wisatawan ke TWA Sebelat sudah memberikan kontribusi pendapatqn bukan pajak sekitar Rp 10-Rp 15 juta per tahun.
Namun Agung Optimistis dengan kerja dengan Yayasab Elang Indonesia dan melibat masyarakatvdesa sekitar, kunjungqn wisata ke TWA ini akan meningkat lagi kedepan dan penerimaan dbukan pajak akan lebih besar dari yang dicapai saat ini
Sementara itu, Wakil Ketua YKEI, Zulham mengatakan, saat oni kita tengah mendiskusikan dan menyusun program untuk pengelolaan TWA Sebelat agar menjjadi salah satu tujuan wisata bagi maayarakat Bengkulu dan wisata manca negara di masa mendatang
Dalam pengeloaan ekowisata TWA Sebelat akan melibatkan kelompok masyarakat sekiar melalui wadah koperasi desa, sehingga mereka merasa memiliki keberadaan ekowisata yang ada di sekitar mereka.
Selain itu, kerja saam dengan koperasi deaa ini juga diharapkan dapat meningkatkan ekonomi maayarakat desa yang ada di sekitar TWA Sebelat, tambah Zulham
Editor. : Usmin









