Tarmizi dan Filosofi Pohon Pisang: Berbudi, Bermanfaat, dan Mengabdi untuk Desa

oleh -18 Dilihat

Lebong — Bagi Tarmizi, pohon pisang bukan sekadar tanaman yang tumbuh di pekarangan atau kebun warga. Hampir setiap bagiannya memiliki kegunaan. Dari akar, batang, daun, hingga buah, semuanya dapat memberi manfaat bagi kehidupan.

Filosofi sederhana itulah yang dibawanya ke arena pemilihan kepala desa (pilkades) Suka Negeri, Kecamatan Topos, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Menjelang pemungutan suara pada 19 November 2026, Tarmizi menawarkan gagasan kepemimpinan yang dirangkumnya dalam slogan Berbudi dan Bermanfaat.

Bagi calon kepala desa nomor urut 1 itu, pohon pisang menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang seharusnya hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya tumbuh untuk dirinya sendiri, melainkan juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Gagasan tersebut berangkat dari kehidupan yang cukup dekat dengannya. Tarmizi dikenal sebagai petani muda sekaligus politisi. Dua latar belakang itu membentuk pandangannya tentang desa: sebuah ruang hidup yang membutuhkan kerja bersama, perhatian terhadap kebutuhan warga, dan pemimpin yang bersedia turun langsung ke lapangan.

Desa Suka Negeri sendiri merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Topos, Kabupaten Lebong. Sebagian besar warganya menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian, terutama padi sawah dan perkebunan kopi, selain tanaman pertanian lainnya.

Di tengah kehidupan masyarakat yang bertumpu pada hasil tanah, Tarmizi melihat kesejahteraan petani sebagai salah satu hal yang perlu mendapat perhatian. Baginya, pembangunan desa semestinya tidak berhenti pada pekerjaan fisik, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari warga yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Belajar dari pohon pisang

Pohon pisang menjadi simbol yang dipilih Tarmizi bukan tanpa alasan. Ia memaknai tanaman tersebut melalui empat nilai yang ingin dijadikan pijakan apabila mendapat kepercayaan memimpin Desa Suka Negeri.

Nilai pertama adalah pengaruh positif, yakni menghadirkan kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Kedua, kebersamaan, yang berarti tumbuh dan maju dengan saling mendukung. Ketiga, ketangguhan, yaitu kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan. Adapun nilai keempat adalah manfaat tanpa henti, sebagaimana bagian-bagian pohon pisang yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Keempat nilai itu menjadi gambaran tentang kepemimpinan yang ingin ia bangun. Seorang kepala desa, dalam pandangannya, tidak cukup hanya menjalankan urusan administrasi pemerintahan. Ia juga perlu mendorong warga agar terlibat, menjaga hubungan antarmasyarakat, dan memastikan pembangunan memberi manfaat seluas-luasnya.

Tarmizi meyakini kemajuan desa sulit dicapai apabila masyarakat hanya ditempatkan sebagai penonton. Warga, menurut dia, harus menjadi bagian dari proses pembangunan sejak perencanaan hingga pelaksanaan, sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing.

Dengan cara itu, pembangunan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah desa. Masyarakat juga memiliki rasa ikut memiliki terhadap hasil pekerjaan yang dilakukan di lingkungan mereka sendiri.

Membangun dengan kepercayaan

Jika terpilih dalam pilkades serentak pada 19 November mendatang, Tarmizi berjanji menjalankan pemerintahan secara transparan dan akuntabel. Ia juga ingin memastikan pelayanan kepada masyarakat diberikan dengan baik tanpa membeda-bedakan warga.

Baginya, kepercayaan masyarakat merupakan amanah yang harus dijaga. Jabatan kepala desa bukan sekadar kedudukan, melainkan tanggung jawab untuk mengupayakan kemajuan desa dan meningkatkan kesejahteraan penduduknya.

Dalam menjalankan pemerintahan, ia memandang hubungan dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai salah satu unsur penting. Pemerintah desa dan BPD, menurut dia, perlu berjalan seiring, saling menguatkan, serta membangun komunikasi agar program yang direncanakan dapat terlaksana sesuai kebutuhan warga.

Tarmizi juga ingin mempertahankan budaya gotong royong yang selama ini tumbuh di Desa Suka Negeri. Tradisi tersebut, baginya, bukan hanya tentang bekerja bersama membersihkan lingkungan atau menyelesaikan pekerjaan fisik, melainkan juga tentang menjaga ikatan sosial di tengah masyarakat.

Ia menyadari bahwa program yang dirancang dengan baik sekalipun tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan warga. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu prinsip yang ingin ia pegang apabila mendapat mandat untuk memimpin desa.

Petani, desa, dan harapan kesejahteraan

Sebagai petani muda, Tarmizi menaruh perhatian pada kehidupan warga yang sehari-hari bekerja di sawah dan kebun. Ia ingin mendorong program pembangunan desa yang berpihak pada kebutuhan masyarakat pertanian.

Bagi warga yang menggantungkan pendapatan pada padi sawah dan kopi, kesejahteraan berkaitan erat dengan keberlangsungan usaha tani dan kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, pembangunan desa perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat yang menjadi penopang kehidupan ekonomi setempat.

Selain sektor pertanian, Tarmizi menyatakan ingin mengupayakan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Ia berharap masyarakat memperoleh akses pelayanan yang layak tanpa terkecuali.

Latar belakangnya sebagai politisi juga menjadi modal yang ingin dimanfaatkan untuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak di tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Melalui jaringan tersebut, ia berharap dapat membuka peluang bagi masuknya program pembangunan yang dibutuhkan Desa Suka Negeri.

Namun, berbagai rencana itu tetap bergantung pada kepercayaan masyarakat dan kemampuan pemerintah desa dalam menerjemahkan gagasan menjadi program yang nyata.

Pilkades serentak Kabupaten Lebong dijadwalkan berlangsung pada 19 November 2026 di 78 desa. Di Desa Suka Negeri, Tarmizi maju dengan nomor urut 1 dan lambang pohon pisang sebagai identitas pencalonannya.

Pada akhirnya, filosofi pohon pisang yang diusung Tarmizi akan diuji bukan hanya melalui kata-kata selama masa pencalonan, melainkan juga melalui kemampuan mewujudkan gagasan menjadi manfaat bagi warga.

Sebab, sebagaimana filosofi yang ia pilih, sesuatu baru benar-benar berarti ketika kehadirannya membawa kebaikan bagi kehidupan di sekitarnya.(**)

 

Editor. :  Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.