Tambal Sulam Jalan Nasional di Seluma Diduga Asal Jadi, Cepat Hancur dan Picu Kecelakaan

oleh -5 Dilihat

Seluma – Pekerjaan tambal sulam (patching) pada ruas jalan nasional di Kabupaten Seluma diduga dikerjakan tidak sesuai standar teknis. Berdasarkan hasil investigasi lapangan, ditemukan sejumlah kejanggalan dalam proses pelaksanaan pekerjaan yang berakibat pada cepat rusaknya badan jalan.
Di lapangan terlihat pekerjaan tambal sulam dilakukan terburu-buru. Pada beberapa titik, tidak dilakukan pengecatan batas area aspal yang rusak, tidak ada pemotongan serta pembongkaran lapisan lama. Aspal baru hanya diletakkan di atas permukaan aspal yang telah rusak tanpa proses yang semestinya.

Akibatnya, permukaan jalan tampak menggunduk, bergelombang, bertumpuk, dan tidak rata.
Selain itu, meskipun di beberapa lokasi dilakukan pemotongan area tambalan, proses pengaspalan tidak disertai pemadatan menggunakan alat tandem roller atau baby roller. Area juga tidak dibersihkan dari tanah dan pasir serta tidak dilakukan prime coat. Kondisi ini menyebabkan aspal baru tidak menyatu dengan aspal lama (existing), sehingga kualitas jalan semakin menurun dan cepat mengalami kerusakan.
Pada lapisan dasar tambalan, ditemukan penggunaan batu bujang berukuran sekitar 15 x 20 cm secara langsung di bawah lapisan aspal. Cara ini dinilai tidak sesuai prosedur karena mengakibatkan aspal tidak dapat melekat sempurna dan mudah hancur.
Dari sisi ketebalan, tambal sulam yang semestinya memiliki ketebalan 4–6 cm, di lapangan hanya ditemukan sekitar 2–3 cm. Ketidaksesuaian ini diduga menjadi penyebab tambalan yang dikerjakan pada Desember 2025 sudah mengalami kerusakan parah pada Januari 2026.
Permasalahan juga ditemukan pada bagian asphalt joint jembatan yang tidak dikerjakan sesuai standar. Sambungan tampak hancur dan terkelupas, bahkan roda kendaraan kini langsung mengenai besi sambungan tersebut.
Sementara itu, pengecatan railing dan trotoar jembatan diduga dilakukan tanpa pembersihan permukaan terlebih dahulu. Cat baru hanya menumpuk di atas cat lama dengan kualitas yang diragukan. Warna tampak kusam dan tidak memberikan perlindungan optimal terhadap besi dari potensi korosi.
Material yang digunakan juga diduga tidak sesuai spesifikasi teknis. Campuran aspal terlihat mengandung banyak agregat kasar berukuran besar, sehingga memengaruhi daya rekat dan ketahanan lapisan permukaan.
Akibat kondisi tersebut, ruas jalan nasional di Seluma kini mengalami kerusakan berupa gelombang, tonjolan, penurunan badan jalan, dan tambalan yang terkelupas. Pengguna jalan terpaksa berebut jalur yang relatif masih rata, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Data yang dihimpun menyebutkan, sepanjang Februari telah terjadi sedikitnya enam korban meninggal dunia akibat kecelakaan di ruas tersebut. Kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap kenyamanan, keamanan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain persoalan teknis, muncul dugaan adanya penggelembungan volume pekerjaan dalam pelaksanaan tambal sulam yang berpotensi merugikan keuangan negara.

“Kami berharap aparat penegak hukum dan instansi terkait dapat melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek tersebut serta menindak tegas pihak-pihak yang terbukti lalai atau melanggar ketentuan,” kata warga yang minta namanya di rahasiakan.

Sementara itu, saat dikonfirmasi kepada pihak penanggung jawab pekerjaan, hingga berita ini diturunkan no hapenya tidak ada yang aktif. (**)

 

Editor. :  Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.