Perambahan Semakin Marak, Gajah Liar di Seblat Makan Plastik dan Pakaian untuk Bertahan Hidup

oleh -57 Dilihat

Bengkulu – Sejumlah gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) yang hidup liar di Bentang Alam Seblat Provinsi Bengkulu menghadapi ancaman krisis pangan dan habitat akibat perambahan hutan yang masif.

Hilangnya ruang gerak dan sumber pakan alami membuat gajah rentan terpapar sampah plastik di sekitar kawasan perkebunan atau pemukiman yang mendesak wilayah jelajah mereka.

Temuan terbaru di lapangan, gajah liar yang tersisa di Bentang Seblat memakan sampah plastik untuk bertahan hidup. Temuan petugas menunjukkan adanya material plastik dan pakaian bekas di dalam kotoran gajah liar.

Jika material plastik dan pakaian dikonsumsi gajah secara terus menerus dapat membahayakan pencernaan dan nyawa gajah-gajah liar tersebut.

Hal ini membuktikan bahwa penyusutan hutan akibat alih fungsi lahan semakin masif bahkan memasuki habitat inti gajah Sumatera. Akibatnya, mereka terdesak ke wilayah pemukiman serta area penyangga yang tercemar dan terpaksa memakan sampah demi bertahan hidup

Berdasarkan data Koalisi Bentang Alam Seblat, luas habitat gajah yang dirambah mencapai 30.017 hektare dari total 112.504 hektare. Lahan ini sebagian besar beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal akibat perambahan masif.

Ketua Kanopi Hijau Indonesia yang juga anggota koalisi,Ali  mengatakan bahwa menteri kehutanan sudah melihat langsung perambahan dan kerusakan habitat gajah di Seblat, tapi tidak ada taktik dan strategi yang jelas untuk mengamankan Bentang Seblat.

“Menhut itu sudah datang, gubernur sudah buat pernyataan menunjukan bahwa Bentang Alam Seblat adalah kawasan penting sebagai habitat gajah dan satwa kharismatik lainnya, atas pernyataan itu seharusnya pemerintah merumuskan strategi dan taktik guna mengamankan Bentang Seblat,” kata Ali.

Faktanya kata dia, hingga saat ini aktivitas penguasaan dan pembukaan lahan hutan masih terus terjadi di Bentang Seblat. Bahkan beberapa hari sebelumnya diketahui adanya pertemuan antara perambah dengan staf ahli menteri kehutanan yang membahas potensi usulan perhutanan sosial di dalam habitat gajah Sumatera.

Menurut Ali, pengamanan Bentang Seblat dari aktivitas pengrusakan semestinya fokus pada biang masalahnya yaitu para cukong yang bermain main atas keselamatan Bentang Seblat.

Sementara Direktur Genesis Bengkulu, Egi Ade Saputra mengatakan adanya informasi terbaru pada 15 Agustus 2026 tentang kedatangan Staf Ahli Kementerian Kehutanan yang bertemu dengan Kelompok Tani Hutan di Sungai Rumbai, Mukomuko.

Pertemuan tersebut kemudian dikaitkan dengan pembahasan usulan Perhutanan Sosial bagi masyarakat yang menggarap kawasan Bentang Alam Seblat maupun konsesi PT Bentara Agra Timber dan PT Anugerah Pratama Inspirasi.

“Persoalannya bukan pada apakah masyarakat berhak memperoleh penyelesaian atas persoalan tenurial, tapi tentu masyarakat yang benar-benar bergantung pada lahan untuk kehidupan tentu membutuhkan solusi yang adil,” kata Egi.

Menurut Egi, pertanyaan yang harus dijawab dalam persoalan ini adalah masyarakat yang membutuhkan kepastian ruang hidup; dan kedua, penguasaan ruang yang telah berkembang menjadi aktivitas perkebunan komoditas dan mungkin melibatkan kepentingan modal.

“Tentu keduanya tidak bisa disamakan, karena skala tutupan sawit yang mencapai lebih dari 12 ribu hektare dan konsentrasi yang sangat besar pada beberapa kawasan. Jika seluruh persoalan disederhanakan menjadi “petani membutuhkan tanah”, maka terdapat risiko bahwa struktur penguasaan lahan yang lebih besar justru tidak pernah diperiksa,” katanya.

Diketahui, perambahan habitat gajah yang masif dan viral membuat Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mendatangi Bentang Alam Seblat pada 14 Desember 2025 dan menegaskan komitmennya bahwa kawasan Bentang Seblat adalah kawasan penting yang harus diselamatkan sebagai habitat gajah dan satwa kharismatik.

Dalam pertemuan antara Koalisi Bentang Seblat dengan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan pada Juni 2026 juga disepakati pentingnya melestarikan habitat kunci gajah Sumatera yang tersisa di Bentang Seblat. (Rls)

 

Edotor : Uszmin

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.