Mafindo Bengkulu Gelar AI Goes to School V.2 untuk 100 Guru TK hingga SMP

oleh -16 Dilihat

Bengkulu — Dewan Pengurus Wilayah Masyarakat Antifitnah Indonesia (DPW Mafindo) Bengkulu akan menggelar Kelas Kecerdasan Artifisial AI Goes to School (AIGTS) V.2 di ruang GLT Universitas Bengkulu, Senin, (24 /8/2026) mendatang.

Kegiatan tersebut akan diikuti 100 peserta yang terdiri atas guru Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dalam pelaksanaannya, DPW Mafindo Bengkulu berkolaborasi dengan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak (IGTK) Kota Bengkulu dan Yayasan Darunnajah Seluma.

Ketua DPW Mafindo Provinsi Bengkulu, Fonika Thoyib, mengatakan bahwa AIGTS V.2 merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas tenaga pendidik dalam memahami dan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

“Program ini merupakan bagian dari AI Opportunity Fund: Asia-Pacific, yang bekerja sama dengan AVPN serta didukung oleh Google.org dan Asian Development Bank,” kata Fonika.

Untuk mendukung efektivitas pembelajaran, Mafindo akan menyiapkan dua trainer dan empat asisten trainer yang mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung. Pendampingan tersebut diharapkan membuat penyampaian materi, diskusi, dan sesi praktik dapat berjalan lebih intensif serta mudah dipahami oleh peserta.

Selain pembelajaran secara tatap muka, kegiatan ini juga akan memanfaatkan Learning Management System (LMS) Mafindo Institute. Platform tersebut digunakan untuk mendukung akses peserta terhadap materi pembelajaran, aktivitas kelas, serta sumber belajar yang berkaitan dengan pemanfaatan AI secara aman dan bertanggung jawab.

Menurut Fonika, perkembangan teknologi AI telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Karena itu, guru perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai agar dapat menggunakan teknologi tersebut secara tepat, kritis, aman, dan beretika.

Melalui Kelas AIGTS V.2, peserta akan memperoleh pemahaman mengenai prinsip dasar kecerdasan artifisial, peluang pemanfaatannya dalam kegiatan belajar mengajar, serta risiko dan tantangan yang perlu diperhatikan ketika menggunakan teknologi AI.

Para guru juga akan didorong untuk memanfaatkan AI dalam membantu penyusunan materi, pengembangan metode pembelajaran, dan peningkatan kreativitas di kelas tanpa mengabaikan keamanan data, etika penggunaan teknologi, kemampuan berpikir kritis, serta kebutuhan peserta didik.

Fonika menegaskan bahwa teknologi AI harus ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran guru.

“Guru tetap memegang peran utama dalam membimbing, membentuk karakter, serta mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. AI harus dimanfaatkan untuk membantu proses pembelajaran agar lebih efektif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Mafindo Bengkulu berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan tenaga pendidik yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi AI, tetapi juga memahami batasan, risiko, dan tanggung jawab dalam penerapannya di lingkungan sekolah.

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran serta dibagikan kepada guru lain di sekolah dan komunitas pendidikan masing-masing.

 

Edison : Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.