Pengabdian Masyarakat Berbasis Riset LPPM Universitas Bengkulu Tahun 2026
Oleh:
Prof. Dr. Mochamad Ridwan, Ketua
Dr. Yar Johan, S.Pi., M.Si., Anggota
Azansyiah, S.E., M.Si., Anggota
I. PENDAHULUAN
Provinsi Bengkulu merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi tanaman kelapa, termasuk di Kabupaten Bengkulu Tengah.
Berdasarkan data BPS Bengkulu Tengah tahun 2025, luas areal tanaman kelapa di daerah tersebut mencapai 1.222 hektare, dengan Kecamatan Pondok Kelapa memiliki areal sekitar 266 hektare.
Potensi kelapa di Bengkulu Tengah cukup besar untuk terus dikembangkan. Selama ini, masyarakat telah memanfaatkan kelapa untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk mengolah daging buahnya menjadi minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO).
Namun, bagian lain dari buah kelapa, khususnya sabut, masih belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian besar hanya menjadi limbah. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, terutama di wilayah pesisir Bengkulu Tengah.
Ridwan (2023) menyebutkan bahwa Bengkulu Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan tanaman kelapa. Di sisi lain, Johan et al. (2021 dan 2023) mengungkapkan bahwa salah satu persoalan di wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Tengah adalah pencemaran lingkungan yang antara lain berasal dari limbah kayu dan turunannya, termasuk limbah kelapa.
Sabut kelapa merupakan limbah padat yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa. Jika diolah dengan baik, sabut kelapa dapat dipisahkan menjadi serat sabut (cocofibre) dan serbuk sabut (cocopeat). Kedua bahan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Di sejumlah negara penghasil kelapa, sabut telah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk, bahkan menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai ekspor.
Produk berbahan dasar sabut kelapa antara lain tali, keset, serat sabut, cocopeat, cocomesh, cocopot, cocosheet, hingga coco fiber board.
Potensi tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian Masyarakat Berbasis Riset Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bengkulu tahun 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan bersama mitra Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil Menengah Mandiri Indonesia dan Otonom (APMIKIMMDO) Bengkulu Tengah.
Melalui kegiatan tersebut, tim pengabdian mendorong pemanfaatan limbah sabut kelapa menjadi produk geotekstil dan briket sehingga dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Bengkulu Tengah memiliki potensi sumber daya alam dan beragam produk lokal yang dikelola pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM memiliki peran penting sebagai salah satu penggerak ekonomi kerakyatan dan pembangunan daerah.
Namun, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan akses terhadap informasi, teknologi, pemasaran, pembiayaan, serta jaringan kemitraan.
Kondisi tersebut juga terjadi dalam pengembangan usaha berbasis pengolahan limbah sabut kelapa.
Karena itu, kolaborasi antara APMIKIMMDO Bengkulu Tengah dan tim pengabdian berbasis riset LPPM Universitas Bengkulu diharapkan dapat memperkuat kapasitas UMKM dalam mengolah sabut kelapa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
APMIKIMMDO Bengkulu Tengah merupakan organisasi yang mewadahi pelaku UMKM serta menjembatani kebutuhan mereka dengan pemerintah, swasta, maupun lembaga keuangan. Kolaborasi dalam program ini diharapkan dapat memperkuat jaringan usaha sekaligus membuka peluang pengembangan produk berbasis potensi lokal.
Pemanfaatan sabut kelapa diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat dan pelaku UMKM, tetapi juga mengurangi timbulan limbah di wilayah pesisir Bengkulu Tengah sehingga kelestarian lingkungan dapat tetap terjaga
II. PERMASALAHAN MITRA
Mitra dalam kegiatan pengabdian ini, yaitu APMIKIMMDO Bengkulu Tengah, menghadapi beberapa permasalahan utama, yaitu:
Mitra belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam memanfaatkan limbah sabut kelapa.
Mitra belum mengetahui teknik pemisahan serat sabut kelapa (cocofibre) dan serbuk sabut kelapa (cocopeat).
Mitra belum memiliki pengetahuan mengenai pengolahan cocofibre dan cocopeat menjadi produk bernilai tambah, khususnya geotekstil dan briket.
Permasalahan tersebut menjadi dasar bagi tim pengabdian untuk memberikan pelatihan, pendampingan, dan bimbingan teknis kepada mitra

III. TUJUAN, MANFAAT, DAN DAMPAK KEGIATAN
3.1 Tujuan
Kegiatan pengabdian masyarakat berbasis riset ini bertujuan untuk:
Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mitra mengenai pemanfaatan limbah sabut kelapa.
Memberikan bimbingan teknis dalam memisahkan serat sabut kelapa (cocofibre) dan serbuk sabut kelapa (cocopeat).
Memberikan pelatihan pembuatan produk geotekstil dan briket berbahan dasar sabut kelapa.
Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan limbah sabut kelapa sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi.
Mendorong pengelolaan limbah kelapa yang lebih ramah lingkungan di Kabupaten Bengkulu Tengah.
3.2 Manfaat
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi limbah sabut kelapa melalui pengolahan menjadi produk geotekstil dan briket.
Selain meningkatkan keterampilan dan peluang usaha bagi mitra, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat serta mendorong berkembangnya UMKM berbasis potensi lokal.
3.3 Dampak yang Diharapkan
Dampak yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya kemampuan masyarakat dan mitra dalam mengolah limbah sabut kelapa menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Pemanfaatan limbah tersebut juga diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya di wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Tengah, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih dan terjaga sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
BAB IV. SOLUSI PERMASALAHAN MITRA

4.1 Deskripsi Iptek yang Diimplementasikan
Bengkulu Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan tanaman kelapa. Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga dan produk seperti VCO, bagian lain dari buah kelapa, khususnya sabut, masih belum dimanfaatkan secara maksimal.
Padahal, sabut kelapa dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Berdasarkan proses pengolahannya, serat sabut kelapa terdiri atas serat pendek dan serat panjang.
Serat pendek dapat diperoleh melalui proses penggilingan menggunakan mesin, sedangkan serat panjang dapat diperoleh melalui proses pengolahan secara manual yang membutuhkan waktu lebih lama.
Secara umum, pengolahan sabut kelapa dapat dilakukan melalui metode retting dan milling. Proses retting membutuhkan waktu sekitar 4–12 bulan dan dapat menghasilkan serat yang panjang serta relatif putih dan bersih.
Sementara itu, proses milling terdiri atas teknik wet-milling dan dry-milling. Teknik wet-milling dilakukan melalui proses perendaman selama sekitar 1–6 minggu dan dapat menghasilkan serat panjang maupun pendek dengan warna kecokelatan. Adapun dry-milling tidak memerlukan proses perendaman, melainkan hanya secukupnya, sehingga menghasilkan serat yang relatif pendek, kasar, dan berwarna kecokelatan (Oktavia, 2013).
Pengolahan hasil samping buah kelapa masih memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Selama ini, industri pengolahan kelapa lebih banyak berfokus pada daging buah sebagai produk utama.
Sementara itu, hasil samping seperti air, sabut, dan tempurung kelapa masih banyak diolah secara tradisional dan belum dimanfaatkan secara optimal (Mahmudah, 2020).
Sabut kelapa dapat diolah menjadi berbagai produk jadi maupun setengah jadi yang memiliki nilai jual. Produk tersebut antara lain tali sabut, keset, serat sabut (cocofibre), serbuk sabut (cocopeat), cocopeat brick, cocomesh, cocopot, cocosheet, coco fiber board (CFB), dan coco coir (Indahyani, 2011).
Sabut kelapa juga memiliki sejumlah karakteristik yang mendukung pemanfaatannya sebagai bahan baku produk unggulan lokal, antara lain tahan lama, ulet, kuat terhadap gesekan, tidak mudah patah, tahan terhadap air, tidak mudah membusuk, serta relatif tahan terhadap jamur dan hama (Pristi, 2019).
Berdasarkan data e-smartschool yang dikutip Mahmud dan Yulius (2015), sabut kelapa menyumbang sekitar 35 persen dari berat keseluruhan buah kelapa. Sabut terdiri atas serat dan gabus yang menghubungkan satu serat dengan serat lainnya.
Dengan produksi kelapa Indonesia yang mencapai rata-rata sekitar 15,5 miliar butir per tahun, potensi bahan baku serat dan debu sabut yang tersedia sangat besar.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk membangun industri pengolahan hasil samping kelapa, khususnya sabut.
Melalui kegiatan pengabdian berbasis riset ini, teknologi pengolahan sabut kelapa akan diperkenalkan kepada mitra agar bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
4.2 Solusi Permasalahan
Untuk menjawab permasalahan mitra, tim pengabdian LPPM Universitas Bengkulu menawarkan beberapa solusi, yaitu:
Pelatihan pemanfaatan limbah sabut kelapa, sehingga mitra memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam mengolah sabut kelapa.
Bimbingan teknis pemisahan cocofibre dan cocopeat sebagai bahan baku produk lanjutan.
Pelatihan pembuatan geotekstil, dengan memanfaatkan serat sabut kelapa sebagai bahan utama.
Pelatihan pembuatan briket, dengan memanfaatkan bahan hasil pengolahan sabut kelapa.
Sosialisasi manfaat ekonomi dan lingkungan, agar masyarakat memahami bahwa limbah sabut kelapa dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus membantu mengurangi pencemaran lingkungan.
Dengan penerapan solusi tersebut, diharapkan APMIKIMMDO Bengkulu Tengah mampu mengembangkan pengolahan sabut kelapa secara berkelanjutan.
Pengolahan limbah menjadi produk geotekstil dan briket tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi bagi mitra dan masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di Kabupaten Bengkulu Tengah.









