Gajah Sumatera Terancam Punah Lokal, Saatnya Rakyat Bengkulu Bergerak

oleh -12 Dilihat

Bengkulu – Koalisi Bentang Seblat bersama elemen pelajar, mahasiswa, dan masyarakat Bengkulu menggelar Elephant Camp 2026 dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia atau Global Elephant Day dengan mengusung tema #GajahKita sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Peringatan hari gajah yang digelar di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat yang menjadi bagian dari Bentang Alam Seblat menyerukan perlindungan bagi gajah Sumatera tersisa yang kini berada di ambang kepunahan lokal.

Mengusung hastag #GajahKita, sebagai anti tesis pandangan publik yang selama menganggap bahwa gajah yang ada di Bentang Seblat bukanlah milik mereka, bahkan sebagian menganggap satwa langka ini adalah hama.

Acara ini berlangsung selama tiga hari, mulai Sabtu 15 Agustus hingga Senin, 17 Agustus 2026. Usai upacara bendera oleh peserta kemah dan delapan gajah binaan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat, massa membangun formasi bersama gajah yang ada di Bentang Seblat. Formasi ini adalah pesan gambar yang menunjukkan makna bahwa gajah adalah milik kita dan menjadi tanggungjawab bersama untuk melestarikannya.

Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar, mengatakan, bahwa habitat gajah di Bentang Alam Seblat kini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Habitat yang terfragmentasi dan pembunuhan gajah dengan cara diracun menjadi faktor utama penurunan populasi gajah Sumatera di Bentang Seblat.

Saat ini populasi gajah Sumatera di Bentang Seblat hanya tersisa puluhan ekor yang hidup di dua kantong yakni Air Rami dan Air Teramang di Kabupaten Mukomuko. Penyusutan populasi ini juga tidak terlepas dari alih fungsi hutan habitat gajah menjadi kebun sawit. Berdasarkan analisis Koalisi Bentang Seblat, dari seluas 80.978 ha kawasan inti Bentang Seblat, seluas 30.017 ha telah dirambah menjadi kebun sawit.

“Populasi gajah yang tersisa di kawasan ini kurang dari 50 ekor. Fakta ini menjadi indikator kuat bahwa kawanan gajah Sumatera di sini sedang berada pada titik kritis menuju kepunahan lokal,” ujar Ali.

Situasi ini terjadi karena tidak adanya sinergitas antara para pemangku yang berkepentingan di Bentang Seblat. Bukti bahwa sedikitnya 30.017 hektare kawasan Bentang Seblat telah terdegradasi dan berubah menjadi perkebunan sawit, sementara wilayah Bentang Seblat lainnya pembalakan masih terus terjadi.

Kondisi ini membuat situasi di Bentang Seblat semakin tidak aman bagi kawanan gajah.  Kejadian terbaru, kasus kematian induk gajah berusia 25 tahun dan anaknya berusia 2 tahun yang ditemukan mati di hutan pada 30 April 2026.

Berdasarkan uji laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) yang baru-baru ini diterima Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, hasil toksikologi menunjukkan adanya kandungan florida, sulfat, dan amonia dalam tubuh kedua satwa.

Selain itu, fragmentasi (pemutusan jalur) juga terjadi akibat adanya perkebunan kelapa sawit skala besar Anglo Eastern Plantation (AEP). AEP merupakan perusahaan modal asing yang mendapatkan konsesi oleh negara yang beroperasi dibawah bendera PT Mitra Puding Mas dan PT PT Alno Agro Utama (PT AAU).

Untuk meningkatkan potensi keselamatan kawanan gajah, kawasan habitat gajah diusulkan menjadi suaka margasatwa dan mendorong kolaborasi seluruh pihak  untuk turut andil dan bertanggungjawab atas keselamatan Bentang Seblat.

“Hasil uji laboratorium sudah keluar dan gajah mati itu diracun, bisa jadi termakan racun. Artinya ada racun di tubuhnya, ada senyawa kimia. Ini mengindikasikan adanya sengketa antara kawanan gajah dengan kelompok petani yang terdesak dan dimanfaatkan dengan kelompok tertentu,” kata Ali.

Koalisi Selamatkan Bentang Seblat juga mendesak Kementerian Kehutanan mengubah status fungsi kawasan hutan di Bentang Alam Seblat, dari Hutan Produksi menjadi Kawasan Suaka Margasatwa seluas 80 ribu hektare.  Koalisi menilai skema perizinan konsesi kayu yang diberikan kepada PT Bentara Arga Timber (BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (API) terbukti gagal total dalam melindungi ekosistem.

Saat ini status Bentang Alam Seblat berupa hutan produksi dan kawasan ekosistem esensial yang memiliki tingkat perlindungan hukum lebih rendah dibandingkan suaka margasatwa.

“Kita ingin status ini satu tingkat di atas level kawasan lindung, dalam hal ini kawasan konservasi. Usulan peningkatan status pengelolaan kawasan yang merupakan kantong gajah ini,” kata Ali.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu, Agung Nugroho mengatakan saat ini gajah di Bengkulu tersisa 25 – 30 ekor. Sedangkan sebanyak 10 ekor merupakan gajah jinak di TWA Seblat.

“Gajah liar yang terekam punya empat anakan dan sisanya gajah dewasa. Jadi secara populasi masih bereproduksi,” ujar Agung.

Meskipun demikian, Agung menilai masih banyak tantangan yang dihadapi kawasan gajah dan habitatnya, yakni akibat berkurangnya tutupan hutan, konversi menjadi perkebunan sawit.

“Jika terus terjadi maka populasi gajah ini terancam dan ini yang harus kita cegah,” kata Agung.

Koordinator PLG Seblat Bengkulu, Johansyah mengatakan, kegiatan Elephant Camp sebagai bentuk dukungan publik terhadap eksistensi dan keberlanjutan konservasi gajah di PLG Seblat.

“Para peserta bisa berinteraksi secara langsung dan menjadi sarana edukasi tentang gajah Sumatera di Bengkulu,” ujar Johan.

Penjaga Ekosistem

Perlu diketahui, gajah memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, yakni sebagai agen penyebar benih. Melalui aktivitas makan, berpindah tempat, dan membuang kotoran, gajah menyebarkan biji tanaman, membuka jalur alami, dan menjaga regenerasi hutan, keberadaan gajah juga memastikan keberagaman jenis tumbuhan dapat tumbuh dengan sempurna.

Salah seorang peserta Elephant Camp Bela Wilianti mengatakan, Bentang Seblat memiliki keanekaragaman hayati yang patut dilindungi dan dilestarikan. Setelah mengikuti kegiatan susur hutan yang dipandu oleh personil BKSDA, peserta mampu mengenali keunikan flora dan fauna di Bentang Seblat.

“Banyak keanekaragaman yang kami temui. Ada serangga, dan tumbuhan yang belum pernah kami temui, termasuk pohon meranti yang terancam punah,” kata Bela.

Selain susur hutan, peserta kemah juga diajak berinteraksi dengan gajah binaan PKG Seblat. Peserta lainnya, Pinka yang datang bersama keempat temannya mengatakan baru pertama kali berkunjung ke PKG Seblat dan melihat gajah secara langsung. Kegiatan ini menurutnya menjadi pengalaman yang tidak terlupakan baginya dan rekan – rekannya.

“Ini menjadi pengalaman berharga. Kegiatan ini semakin menyadarkan kita bahwa keberadaan gajah sangat penting dan mereka berhak mendapatkan ruang hidup yang aman,” katanya.

 

Editor : Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.