BI Bengkulu Perkuat Sinergi Moneter dan Fiskal untuk Dorong Investasi Berkualitas

oleh -34 Dilihat

Bengkulu– Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu menggelar Sarasehan Perekonomian dan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Bengkulu Edisi Mei 2026 serta Kajian Fiskal Regional (KFR) di Hotel Mercure Bengkulu, Selasa (28/7/2026l.

Kegiatan bertema “Sinergi Moneter dan Fiskal: Memperkuat Stabilitas dan Optimisme Permintaan Domestik Guna Mendorong Intermediasi Produktif dan Investasi Berkualitas di Provinsi Bengkulu” itu menjadi forum untuk memperkuat koordinasi kebijakan dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan daerah.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat mengatakan perekonomian global masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya ketidakpastian, kebijakan tarif perdagangan, hingga suku bunga global yang masih tinggi. Meski demikian, ia optimistis prospek ekonomi ke depan akan membaik.

Menurut dia, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas moneter sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui berbagai instrumen kebijakan.

“Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen sebagai langkah menjaga stabilitas sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi,” kata Wahyu.

Selain mempertahankan suku bunga acuan, BI juga terus memperkuat implementasi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara-negara mitra guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Untuk Bengkulu, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 berada pada kisaran 4,5–5,1 persen dengan inflasi yang tetap terkendali sehingga daya beli masyarakat dapat terjaga.

BI juga mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui digitalisasi sistem pembayaran dan pelayanan, tanpa menambah jenis maupun tarif pajak baru.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJP) Ismail memaparkan perkembangan kebijakan fiskal regional serta pentingnya sinergi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sementara itu, ekonom nasional Aldian Taloputra menyampaikan prospek perekonomian Indonesia pada 2026. Menurut dia, fokus pemerintah dan otoritas ekonomi saat ini adalah menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat tetap terpelihara di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ia menilai harga bahan bakar minyak (BBM) masih terkendali karena kebijakan pemerintah, sedangkan kenaikan harga kebutuhan rumah tangga masih berada dalam rentang sasaran inflasi. Kondisi suku bunga yang relatif stabil juga diharapkan tetap mendukung aktivitas ekonomi, investasi, dan dunia usaha.

Melalui sarasehan tersebut, BI berharap sinergi antara pemerintah, otoritas moneter, otoritas fiskal, akademisi, dan pelaku usaha semakin kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah, meningkatkan intermediasi sektor produktif, serta mendorong investasi berkualitas yang berkelanjutan di Provinsi Bengkulu.

 

Editor  : Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.