Unib Perkenalkan Metode Takakura, Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Kompos

oleh -22 Dilihat

Bengkulu – Fakultas Teknik Universitas Bengkulu  (Unib) memperkenalkan metode Takakura kepada masyarakat Kelurahan Sawah Lebar Baru, Kota Bengkulu, untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.

Selain mengurangi volume sampah, metode ini berpotensi menekan pengeluaran rumah tangga untuk membeli pupuk.

Pengenalan metode tersebut dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PPM) di Kantor Lurah Sawah Lebar Baru, Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan yang dipimpin tim pengabdian FT Unib itu melibatkan ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga setempat.

Tim pengabdian diketuai Ir. Fepy Supriani, S.T., M.T. Dalam kegiatan tersebut, warga tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai pengelolaan sampah organik, tetapi juga mengikuti praktik pembuatan kompos menggunakan bahan dan peralatan sederhana.

Metode Takakura dipilih karena relatif mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga dan tidak membutuhkan lahan luas. Teknik pengomposan ini dikembangkan oleh Koji Takakura bersama Pusdakota Surabaya dan Pemerintah Kota Surabaya pada 2005.

Pengomposan dilakukan menggunakan keranjang berpori yang memungkinkan sampah organik diproses menjadi kompos. Bahan yang dapat dimanfaatkan antara lain kulit buah, sisa sayuran, kulit bawang, sisa nasi, dan kulit telur.

Dalam praktik yang dipandu Fahrul Rahman, peserta diperkenalkan dengan penggunaan keranjang berpori, kardus, bantalan sekam, tanah, sekop, serta cairan aktivator Effective Microorganisms 4 (EM4).

Proses pembuatan kompos diawali dengan melapisi bagian dalam keranjang menggunakan kardus. Selanjutnya, bantalan sekam dan tanah dimasukkan sebagai media pengomposan.

Sampah organik yang telah dicacah kemudian ditambahkan bersama aktivator secara bertahap sebelum keranjang ditutup dan disimpan untuk menjalani proses pengomposan.

Melalui praktik tersebut, warga diharapkan dapat mulai memilah sampah sejak dari rumah dan memanfaatkan sisa dapur menjadi pupuk. Kebiasaan ini juga dapat membantu mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

Dalam kegiatan itu, tim PPM FT Unib turut menyerahkan bantuan sarana pengolahan sampah berupa tempat sampah, keranjang Takakura, dan cairan aktivator EM4 kepada Lurah Sawah Lebar Baru,

Nellywati, S.PKP. Sarana tersebut selanjutnya akan dibagikan kepada kelompok ibu-ibu PKK untuk mendukung penerapan metode Takakura di rumah masing-masing.

Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan mereka dalam sesi tanya jawab dan praktik pengomposan. Peran kelompok PKK diharapkan dapat membantu memperluas penerapan metode tersebut di lingkungan keluarga.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pembangunan berkelanjutan, terutama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Pengolahan sampah organik menjadi kompos juga berkaitan dengan SDGs 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan serta SDGs 15 tentang ekosistem daratan.

Adapun dari sisi ekonomi, penggunaan kompos buatan sendiri berpotensi mengurangi biaya pembelian pupuk. Jika dikembangkan secara konsisten dan sesuai kebutuhan pasar, pengolahan kompos juga dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Tim PPM FT Unib berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada sosialisasi dan praktik, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Dukungan sarana, keterlibatan kelompok PKK, dan pendampingan berkelanjutan diperlukan agar metode Takakura dapat diterapkan secara konsisten.

Melalui kegiatan pengabdian ini, Unib mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Pengolahan sampah dari rumah tangga diharapkan menjadi langkah sederhana untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih sekaligus meningkatkan pemanfaatan sampah organik.(Humas Unib)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.