Polres Ende Lakukan Assessment Sebelum Dampingi Anak-anak Terdampak Gempa

oleh -41 Dilihat

Ende, NTT — Polres Ende terus melakukan upaya pemulihan kondisi psikologis masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Ende. Salah satunya melalui kegiatan trauma healing yang menyasar masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi kelompok rentan mengalami tekanan psikologis pascabencana.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/8/2026). Sebelum memberikan pendampingan kepada masyarakat, personel yang tergabung dalam tim trauma healing terlebih dahulu menjalani assessment untuk memastikan kesiapan dalam melaksanakan tugas di lapangan.

Kapolres Ende AKBP Yudhi Franata mengatakan, assessment dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan personel memiliki kesiapan, baik secara kemampuan maupun kondisi psikologis, sebelum memberikan pendampingan kepada warga terdampak bencana.

“Sebelum turun mendampingi masyarakat, khususnya anak-anak, personel kami terlebih dahulu menjalani assessment. Ini penting untuk memastikan mereka siap memberikan pendampingan dengan pendekatan yang tepat dan humanis,” ujar AKBP Yudhi Franata dalam keterangannya di Ende (26/08).

Menurutnya, penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti makanan, tempat tinggal, dan pelayanan kesehatan. Pemulihan kondisi psikologis juga menjadi bagian penting dalam proses penanganan masyarakat terdampak bencana.

“Pascabencana, yang perlu kita pulihkan bukan hanya kondisi fisik, tetapi juga rasa aman dan kepercayaan diri masyarakat. Anak-anak juga perlu mendapatkan ruang untuk kembali bermain, tertawa, dan berinteraksi seperti biasa,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, tim trauma healing mengajak anak-anak untuk mengikuti berbagai kegiatan yang menyenangkan, seperti bermain bersama, bernyanyi, berinteraksi, serta melakukan aktivitas lainnya yang dapat membantu mengurangi tekanan psikologis akibat pengalaman gempa bumi.

Pendekatan tersebut dilakukan secara humanis dan disesuaikan dengan kondisi anak-anak di lokasi pengungsian. Kehadiran personel Polri diharapkan dapat memberikan rasa aman sekaligus menghadirkan suasana yang lebih positif di tengah kondisi pengungsian.

AKBP Yudhi Franata berharap kegiatan trauma healing dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan sehingga membantu masyarakat, khususnya anak-anak, dalam proses pemulihan pascabencana.

“Kami berharap melalui pendampingan ini anak-anak dapat kembali ceria dan merasa bahwa mereka tidak sendiri. Kami akan terus hadir dan mendampingi masyarakat selama dibutuhkan,” ungkap AKBP Yudhi.

Bagi Polres Ende, trauma healing bukan sekadar kegiatan bermain bersama anak-anak. Lebih dari itu, setiap senyum dan tawa yang kembali hadir menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat setelah menghadapi bencana.

Di tengah kehilangan dan ketidakpastian pascagempa bumi, kehadiran, perhatian, dan pendampingan menjadi bentuk nyata kepedulian Polri untuk memberikan rasa aman serta membantu masyarakat bangkit kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.