Serang – Operasi Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri mengidentifikasi satu korban kapal Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Korban berinisial SU, merupakan salah satu anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1. Korban sebelumnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan identifikasi dilakukan melalui koordinasi Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Banten dengan Biddokkes Polda Bengkulu, kemudian dilanjutkan oleh tim DVI Pusdokkes Polri.
“Setelah menerima informasi adanya penemuan jenazah di wilayah Pulau Enggano, kami berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk dilakukan proses identifikasi dan pencocokan dengan data antemortem dari keluarga korban kapal Arupadhatu 1,” kata Hengki dalam kenferensi pers di Serang,
Ia mengatakan proses identifikasi dilakukan dengan mencocokkan data primer berupa sidik jari, data gigi, serta DNA keluarga korban dengan jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU yang merupakan ABK kapal Arupadhatu 1 dan salah satu korban hilang kontak,” ujarnya.
Sebelumnya, kapal Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga kru bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi.
Informasi hilangnya kontak dengan kapal tersebut diterima Kapolsek Carita Iptu Supandi pada Selasa (8/9) pukul 13.55 WIB dari seorang jurnalis Antara Banten.
Operasi pencarian kemudian dilakukan bersama unsur terkait dengan membagi wilayah pencarian ke dalam sejumlah sektor. Hingga hari ke-10, sebanyak 24 kapal dikerahkan untuk melakukan pencarian di 11 sektor.
Dalam pencarian tersebut, petugas menemukan sejumlah benda yang diduga berkaitan dengan kapal, antara lain jaket pelampung, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal, dan galon air.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan operasi pencarian dilaksanakan selama tujuh hari dan diperpanjang tiga hari berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.
“Pada pelaksanaan tujuh hari tersebut kami mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12, kemudian sampai tanggal 14 kami lakukan evaluasi dan kami perpanjang tiga hari,” katanya.
Menurut dia, selama masa perpanjangan tiga hari tersebut tidak ditemukan tanda-tanda korban lainnya selain sejumlah objek yang telah ditemukan sebelumnya. Dengan demikian, operasi pencarian resmi dihentikan setelah dilakukan evaluasi.
Terkait jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Al Amrad menjelaskan bahwa informasi tersebut belum dapat langsung dipastikan sebagai korban kapal Arupadhatu 1 karena masih menunggu hasil identifikasi dan pencocokan dengan data keluarga.
“Setelah proses identifikasi dan pencocokan dilakukan, hasilnya dapat kita sampaikan bersama,” ujarnya.
Meski operasi pencarian resmi dihentikan, Basarnas tetap melakukan pemantauan dan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu,
Kantor SAR Lampung, nelayan, serta masyarakat pesisir di wilayah yang diperkirakan berkaitan dengan area pencarian.
“Hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut,” kata Al Amrad.
Ia menambahkan, tim gabungan di Bengkulu masih melakukan penyisiran berdasarkan informasi yang diterima, termasuk di sekitar Pulau Enggano..
Pencarian kapal Arupadhatu 1 melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi dan mencakup wilayah perairan Banten,
Lampung hingga Bengkulu. Setiap informasi mengenai korban maupun benda yang diduga berasal dari kapal tetap ditindaklanjuti melalui koordinasi unsur SAR dan masyarakat pesisir.
Alternatif judul:
Editor : Usmin










