Petani Kopi Bengkulu Cemas Jelang Panen Raya Harga Turun

oleh -278 Dilihat
Tanaman kopi jenis Rabusta milik petani di Bengkulu.(Foto/Dok)
Tanaman kopi jenis Rabusta milik petani di Bengkulu.(Foto/Dok)

Bengkulu Selatan- Meski panen raya kopi di Provinsi Bengkulu baru dilaksanakan sekitar Maret dan April 2026 mendatang, tapi harga kopi biji kering Kabupaten Bengkulu Selatan sejak dua pekan ini bergerak turun dari semula Rp 63.000 menjadi Rp 54.000/kg.

Turunnya harga kopi ini sangat dicemaskan para petani di Bengkulu Selatan dan sekitarnya, karena mereka khawatir ketika berlangsung panen raya kopi harganya anjlok dibawah Rp 50.000/kg.

“Kami kini cemas karena khawatir harga kopi biji menjelang panen raya April 2026 mendatang, anjlok dibawah Rp 50.000/kg. Padahal, hasil panen merupakan satu-satunya harapan untuk menghidupi keluarga,” kata Arlan (45), petani kopi setempat.

Ia berharap turunnya harga kopi biji di Bengkulu Selatan dan sekitarnya hanya sesaat saja karena permintaan lagi sepi dan setelah itu, harganya kembali normal dikisaran Rp 63.000/kg, seperti dua pekan lalu.

Hal senada diungkapkan Sofyan (35), petani kopi lainnya. Ia mengatakan, turunnya harga saat ini dikarenakan rendahnya serapan pasar. Sementara pasokan kopi biji dari petani hasil panen buah selang cukup banyak.

Sesuai hukum pasar jika produksi melimpah dan permintaan dari konsumen tidak ada lonjokan, maka harga kopi biji kering akan turun. “Hal inilah yang terjadi sekarang di Bengkulu Selatan, sehingga harga kopi biji turun dari Rp 63.000 menjadi Rp 54.000/kg,” ujarnya.

Ia optimistis harga kopi turun hanya sesaat saja dan ketika permintaan dari konsumen meningkat, maka harga akan bergerak kembali naik dikisaran Rp 60.000/kg, dan petani berharap saat panen raya harga kopi minimal Rp 60.000/kg.

Harga Kopi Bubuk

Dari pantuan di pasar tradisional Bengkulu, Selasa (18/11/2025), meski harga kopi biji turun dikisaran Rp 50.000/kg, tapi harga kopi bubuk di daerah ini masih bertengger dikisaran Rp 80.000-Rp 120.000/kg.

Harga kopi bubuk di Bengkulu sejak harga kopi biji melambung dari Rp 40.000 menjadi Rp 60.000/kg, terus bergerak naik hingga titik tertinggi Rp 120.000/kg. Bahkan, kopi bubuk kualitas nomor satu dijual Rp 135.000/kg.

Produksi kopi bubuk Bengkulu tidak hanya dipasarkan di lokal dan nasional, tapi juga di ekspor ke beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat (AS), salah satunya pengusaha UMKM di Kabupaten Rejang Lebong mendapat kontrak dengan pembeli diluar negeri di atas Rp 1 miliar.

Mayoritas kopi bubuk yang diproduksi masyarakat Bengkulu jenis Rabusta dan kopi Arabika. Hal ini terjadi karena mayoritas petani di Bengkulu menanam kopi Rabusta sesuai dengan kondisi iklim dan tingkat kesuburan tanah.

Produksi kopi biji petani Bengkulu selain dipasarkan ke dalam negeri juga di ekspor melalui provinsi tetangga Lampung dan Palembang, Sumsel. Hal ini terjadi karena pengusaha ekspor kopi di Bengkulu sejak beberapa tahun lalu menghentikan kegiatanya.

Karena itu, tidak mengherankan orang lebih kenal kopi Lampung ketimbang kopi Bengkulu. Padahal, sebagian kopi besar Bengkulu dijual ke Lampung. Terhentikanya ekspor kopi Bengkulu, salah satunya disebabkan akses transportasi angkutan laut di daerah ini tidak berjalan baik sesuai harapan.

Reporter : RGA

Editor      :     Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.