Bengkulu Tengah Revitalisasi Bahasa Rejang dan Lembak, Dorong Guru Kuasai Coding dan AI

oleh -48 Dilihat

Bengkulu Tengah – Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah mendorong pelestarian bahasa daerah sekaligus peningkatan kompetensi guru dalam menghadapi transformasi digital.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) dan peluncuran PGRI Power untuk mendukung gerakan satu juta guru mahir coding dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Kedua kegiatan itu digelar di SMP Negeri 3 Bengkulu Tengah, Selasa (20/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. FTBI mengusung tema “Melestarikan Bahasa Daerah, Menguatkan Jati Diri Bangsa”.

Bupati Bengkulu Tengah Rachmat Riyanto mengatakan, pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Perkembangan teknologi, menurut dia, tidak boleh membuat generasi muda kehilangan kebanggaan terhadap bahasa ibu.

“Festival Tunas Bahasa Ibu ini bukan hanya sekadar perlombaan, tetapi harus menjadi momentum dan gerakan bersama untuk mendorong anak-anak kita agar bangga menggunakan bahasa daerahnya. Kita ingin bahasa ibu tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Rachmat.

Di Bengkulu Tengah, bahasa Rejang dan bahasa Lembak menjadi fokus revitalisasi. Pemerintah kabupaten bersama Balai Bahasa Provinsi Bengkulu telah mendorong program pelestarian kedua bahasa tersebut sejak 2023 agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Rachmat mengajak guru dan orang tua membiasakan anak-anak menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Pembiasaan itu dinilai penting agar bahasa daerah tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkulu Tengah Eriyanto mengatakan, FTBI menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus menunjukkan prestasi.

Melalui festival tersebut, siswa diharapkan semakin mencintai bahasa Rejang dan Lembak serta tidak malu menggunakannya.

Dalam festival itu, siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama mengikuti lomba pidato, puisi, dan mendongeng menggunakan bahasa daerah.

Acara juga dimeriahkan atraksi dol serta penampilan Tari Ting Bedeting dan Senam Berbinar oleh para siswa.

Perwakilan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu mengapresiasi dukungan pemerintah daerah terhadap revitalisasi bahasa daerah.

Sinergi tersebut diharapkan terus berlanjut sehingga penggunaan bahasa Rejang dan Lembak semakin meluas di kalangan generasi muda.

Guru Didorong Menguasai Teknologi

Selain pelestarian bahasa daerah, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mendorong transformasi digital di dunia pendidikan melalui peluncuran PGRI Power. Program ini mendukung gerakan satu juta guru mahir coding dan AI.

Rachmat mengatakan, penguasaan teknologi menjadi kebutuhan penting bagi guru untuk mengikuti perkembangan zaman dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Karena itu, tenaga pendidik perlu terus mengembangkan kompetensi agar mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam proses belajar-mengajar.

“Guru-guru kita harus terus meningkatkan kemampuan dan mengikuti perkembangan zaman. Melalui PGRI Power, kita berharap guru-guru di Bengkulu Tengah dapat ikut berpartisipasi dalam gerakan satu juta guru mahir coding dan AI, sehingga mampu meningkatkan kompetensi serta kualitas pendidikan,” ujarnya.

Dengan jumlah guru di Bengkulu Tengah yang hampir mencapai 3.000 orang, Rachmat berharap semakin banyak tenaga pendidik berpartisipasi dalam program tersebut.

PGRI Power diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat keterampilan digital guru dan mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Kegiatan yang dihadiri Bunda Guru Bengkulu Tengah Susilo Damarini Rachmat, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah, camat, perwakilan Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, kepala sekolah, dan guru itu menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya lokal dan penguasaan teknologi.

Melalui FTBI dan PGRI Power, pemerintah daerah berharap identitas budaya tetap terjaga, sementara para guru semakin siap menghadapi perubahan dan tantangan pendidikan di era digital. (MC)

 

Editor : Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.