Polda Metro Jadi Contoh Penguatan Rantai Pasok MBG

oleh -6 Dilihat

Jakarta— Polri mendorong jajaran memperkuat rantai pasok bahan pangan lJelang Indonesia Vs Malaysia si Asean Cup Wakapolri Cek Kesiapan Pengamanan
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan Polda Metro Jaya melalui pengembangan kawasan pangan di Muara Gembong,

Kabupaten Bekasi, menjadi salah satu contoh implementasi penguatan rantai pasok tersebut.

“MBG merupakan program pemerintah yang membutuhkan dukungan seluruh komponen. Kapolri memerintahkan jajaran untuk mendukung pelaksanaannya sesuai tugas dan potensi wilayah masing-masing, salah satunya dengan memperkuat rantai pasok,” ujar Trunoyudo di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Berdasarkan data Satgas MBG Polri per 28 September 2026, terdapat 1.502 SPPG Polri dalam berbagai tahapan pengembangan. Sebanyak 841 SPPG telah beroperasi, 390 dalam persiapan operasional, dan 271 masih dalam tahap pembangunan.

Jaringan tersebut diproyeksikan melayani sekitar 2.102.500 penerima manfaat dan menyerap sekitar 42.050 tenaga kerja.
Menurut Trunoyudo, pengembangan SPPG perlu dibarengi dengan penguatan produksi dan distribusi pangan agar ketersediaan bahan baku terjaga secara berkelanjutan.

“Kapolri mengarahkan agar dukungan Polri tidak berhenti pada pembangunan SPPG. Jajaran juga didorong memetakan potensi produksi di wilayah masing-masing dan membangun hubungan antara produsen pangan dengan kebutuhan SPPG,” katanya.

Di Muara Gembong, kawasan yang sebelumnya memiliki sekitar 60 kolam kini berkembang menjadi 128 kolam. Dalam panen raya pada Senin, dihasilkan sekitar 10 ton ikan dan udang serta 4.000 butir telur ayam.

Hasil perikanan tersebut terdiri atas 5.000 kilogram ikan nila dan mujair, 3.000 kilogram lele, 1.000 kilogram udang vaname, serta 1.000 kilogram udang pancet.

Sebanyak 5.171 kilogram ikan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan 12 SPPG Polda Metro Jaya yang melayani sekitar 30.997 penerima manfaat. Distribusi dilakukan menggunakan kendaraan yang dilengkapi kotak pendingin untuk menjaga kualitas dan kesegaran pangan.

Trunoyudo mengatakan konsep pengembangan rantai pasok tersebut dapat diterapkan Polda jajaran dengan menyesuaikan potensi masing-masing daerah.

“Yang direplikasi bukan semata-mata bentuk kegiatannya, tetapi konsepnya. Polda jajaran dapat memetakan potensi pangan masing-masing, membangun produksi bersama masyarakat, menjaga kualitas, menyiapkan distribusi, kemudian menghubungkannya dengan SPPG,” ujarnya.

Ia mencontohkan daerah pertanian dapat mengembangkan produksi beras, jagung, sayur dan buah. Sementara daerah peternakan dapat memperkuat produksi telur, ayam dan sumber protein lainnya, sedangkan wilayah pesisir dapat mengembangkan komoditas ikan dan udang.

Penguatan rantai pasok tersebut juga didukung melalui rekrutmen Bintara Kompetensi Khusus (Bakomsus) dengan kompetensi pertanian, perikanan, peternakan, gizi dan bidang terkait lainnya.

“Bakomsus menjadi bagian dari penguatan SDM untuk mendukung program pemerintah. Personel dengan kompetensi pertanian, perikanan, peternakan dan gizi dapat membantu memperkuat sisi teknis produksi, pendampingan, kualitas hingga keberlanjutan rantai pasok,” kata Trunoyudo.

Ia menambahkan, penguatan rantai pasok diharapkan membuat program MBG memberikan manfaat yang lebih luas dengan membuka akses pasar bagi produksi masyarakat sekaligus memastikan pasokan pangan bagi SPPG.

“Dengan rantai pasok yang kuat, produksi masyarakat memiliki jalur penyerapan, SPPG memperoleh pasokan yang berkelanjutan, dan masyarakat ikut memperoleh manfaat ekonomi,” pungkasnya.

 

Editor : Usmnin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.