Sabut Kelapa Disulap Jadi Geo Tekstil dan Briket, LPM Unib Bina

oleh -3 Dilihat

Bengkulu –  Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Bengkulu (Unib) melatih kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, mengolah limbah sabut kelapa menjadi produk geo tekstil dan briket.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian berbasis riset LPM Unib untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah sabut kelapa sekaligus mendorong peningkatan perekonomian masyarakat setempat.

Kegiatan pelatihan pembuatan geo tekstil dan briket dari bahan baku cocopeat dan cocofiber itu dibuka Ketua LPM Unib Prof. Dr. Mochamad Ridwan di rumah salah seorang anggota kelompok UMKM Desa Pekik Nyaring, Selasa (15/9).

Kegiatan tersebut dihadiri Camat Pondok Kelapa Ridu Lima, perangkat desa, anggota LPM Unib, serta ibu-ibu kelompok UMKM Desa Pekik Nyaring.

Prof. Ridwan mengatakan Desa Pekik Nyaring dipilih sebagai lokasi pengembangan produk geo tekstil dan briket karena berada di kawasan pesisir yang memiliki banyak tanaman kelapa.

“Kami yakin limbah sabut kelapa di desa ini cukup banyak sehingga bahan baku untuk memproduksi geo tekstil dan briket tidak akan mengalami kekurangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, LPM Unib sebelumnya pada 2025 telah melakukan pembinaan terhadap kelompok UMKM di Desa Srikuncoro, Kecamatan Pondok Kelapa, dalam pengolahan sabut kelapa menjadi cocofiber dan cocopeat.

Menurut dia, usaha tersebut telah berjalan dan produknya dipasarkan di wilayah Bengkulu. Bahkan, permintaan terhadap produk berbahan baku limbah sabut kelapa tersebut cukup tinggi.

Namun, kata dia, permintaan konsumen belum dapat dipenuhi secara optimal karena kapasitas mesin produksi cocofiber dan cocopeat masih terbatas.

“Terbatasnya produksi bukan karena kekurangan bahan baku, tetapi kapasitas mesin produksi yang masih terbatas,” katanya.

Ia berharap kelompok UMKM dapat meningkatkan kapasitas mesin produksi sehingga permintaan konsumen dapat dipenuhi. Dengan demikian, usaha dapat berkembang dan meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok.

Prof. Ridwan yang didampingi Dr. Yar Johan mengatakan hal serupa juga diharapkan terjadi pada usaha pembuatan geo tekstil dan briket di Desa Pekik Nyaring.

Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, usaha pengolahan sabut kelapa tersebut diyakini dapat berkembang dan memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.

Ia menambahkan, peminat produk geo tekstil di Bengkulu cukup tinggi sehingga kelompok UMKM tidak akan kesulitan memasarkan produk apabila kualitas dan kapasitas produksinya terus ditingkatkan.

Sementara itu, Camat Pondok Kelapa Ridu Lima menyambut baik program LPM Unib yang melatih dan membina kelompok UMKM Desa Pekik Nyaring untuk mengolah limbah sabut kelapa menjadi produk bernilai ekonomi.

“Saya menyambut baik program ini karena mengajak ibu-ibu anggota UMKM untuk memproduksi geo tekstil dan briket dari sabut kelapa yang sudah diolah menjadi cocofiber dan cocopeat,” ujarnya.

Menurut dia, program tersebut memberikan kesempatan kepada ibu-ibu di Desa Pekik Nyaring untuk memiliki kegiatan produktif sekaligus menambah pendapatan keluarga.

“Kalau soal bahan baku limbah kelapa di daerah kami tidak akan kekurangan karena banyak tanaman kelapa. Selama ini limbah kelapa hanya berserakan, tetapi dengan adanya alat untuk memproduksi geo tekstil dan briket, limbah tersebut dapat memiliki nilai ekonomi tinggi,” katanya.

Ia menegaskan pemerintah kecamatan siap mendukung dan menyukseskan usaha kelompok UMKM tersebut agar dapat maju dan berkembang.

Hal senada disampaikan Cici Handayani dari APMIKIMMDO. Ia mengatakan pihaknya bersama anggota kelompok UMKM berkomitmen mengembangkan usaha pengolahan limbah sabut kelapa tersebut.

“Kami akan sungguh-sungguh mengembangkan usaha ini agar berhasil dan sukses sehingga dapat meningkatkan perekonomian anggota,” ujarnya.

Cici mengatakan pada tahap awal produksi geo tekstil dan briket masih dilakukan dalam skala terbatas karena kapasitas mesin produksi cocofiber dan cocopeat masih kecil.

Namun, apabila permintaan meningkat dan produk mendapat banyak peminat, kelompok UMKM siap menambah mesin produksi dengan kapasitas yang lebih besar

 

.Editor  Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.