Menbud Fadli Zon Resmikan Pemugaran Masjid Padang Betuah, Perkuat Jejak Peradaban Islam di Bengkulu Tengah

oleh -46 Dilihat

Bengkulu – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, meresmikan pemugaran bangunan cagar budaya Masjid Padang Betuah di Kabupaten Bengkulu Tengah, Kamis siang (26/2/2026).

Masjid Padang Betuah merupakan salah satu jejak penting peradaban Islam di Bengkulu Tengah. Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan pentingnya menghargai dan menjaga warisan para pendahulu sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Kita memang harus menghargai jejak perjalanan para pendahulu. Saat ini, kita melakukan akselerasi dalam perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya,” ujarnya.

Masjid yang berdiri sejak abad ke-19 itu menjadi bukti sejarah perkembangan Islam dan arsitektur tradisional di Bengkulu. Keberadaannya juga menandai proses penyebaran agama Islam di Pulau Sumatera.

Menurutnya, sejarah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat. “Cerita atau sejarah adalah bagian yang sangat penting, karena dari situlah kita dapat melakukan refleksi, literasi, dan edukasi,” imbuhnya.

Peresmian pemugaran ditandai dengan penandatanganan prasasti. Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni, Bupati Bengkulu Tengah Rahmat Riyanto, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Iskandar Mulia Siregar.
Dalam kesempatan itu, Herwan Antoni menyampaikan bahwa pelestarian cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama.

Menjaga kelestarian cagar budaya ini bukan hanya soal mempertahankan bangunannya, tetapi juga merawat identitas kebudayaan serta menanamkan kebanggaan kepada generasi penerus sebagai bagian dari nilai sejarah dan budaya,” ujarnya.

Masjid Padang Betuah telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya tingkat kabupaten berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bengkulu Tengah Nomor 420-424 Tahun 2024.

Pemugaran ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga menjadi upaya merawat ingatan kolektif masyarakat atas identitas budaya tanpa menghilangkan jati dirinya. Langkah tersebut pun disambut positif warga setempat.

“Dulu masjid ini berdinding bidai (bilah bambu). Karena rapuh, kami bergotong royong mengangkut pasir pantai untuk pondasi dan dinding bangunan,” kenang Dahlini, warga setempat.

 

Editor  : Usmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.