KABUT MASIH menggantung di udara Kota Bengkulu ketika jarum jam mendekati pukul 07.00 WIB, Senin (7/9/2026). Di halaman parkir belakang Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, puluhan orang mulai berkumpul.
Mereka mengenakan seragam putih dan celana krem. Sebagian menenteng tas pakaian untuk perjalanan selama tiga hari. Pagi itu, para wartawan ekonomi dari berbagai media bersiap meninggalkan Bengkulu menuju Curup, Kabupaten Rejang Lebong.
Perjalanan tersebut merupakan bagian dari kegiatan pelatihan wartawan ekonomi yang digelar BI Bengkulu pada 7-9 September 2026.
Namun, perjalanan kali ini bukan sekadar agenda pelatihan jurnalistik. Rombongan wartawan juga menyaksikan langsung satu momentum penting bagi perekonomian Bengkulu: kembalinya kopi daerah itu menembus pasar Eropa melalui ekspor perdana ke Italia.
Dua bus yang membawa rombongan berangkat dari Bengkulu sekitar pukul 07.00 WIB. Sebelum menuju Curup, rombongan singgah di Kabupaten Kepahiang untuk mengikuti bincang-bincang kopi sekaligus menyaksikan pelepasan ekspor perdana kopi Bengkulu ke Italia.
Sebanyak 19,2 ton kopi dikirim ke Italia dengan nilai lebih dari Rp1,2 miliar. Kopi jenis Rabusta yang di ekspor tersebut berasal dari sejumlah UMKM binaan Bank Indonesia Perwakilan Provinsu Bengkulu
Ekspor kopi tersebut membuktikan UMKM Binaan BI Bengkulu naik kelas dari pasar loka manpu menembus pasar global. Ke-depan diharapkan ekspor kopi Bengkulu tembus ke sejimlah negara di dunia.
Bank Indonesia Bengkulu dalam mendukung UMKM naik kelas, selain mendorong ekspor kopi juga melatih para UMKM menjadi peracik kopi alias Barista yang profesional dan mampu mandiri.
Sejumlah Barista yang menjadi binaan Bank Indonesia Bengkulu, sukses mengikuti lomba Barista di Medan karena berhasil menjadi juara.
Sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan tiba di kompleks Kantor Bupati Kepahiang. Suasana acara sudah dipenuhi petani kopi, pelaku usaha, perwakilan industri, serta sejumlah pemangku kepentingan komoditas kopi.

Bincang-bincang kopi menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai mata rantai industri, mulai dari petani, pedagang dan pengolah kopi hingga calon pembeli.
Perwakilan Starbucks dan Tomoro Coffee turut hadir sebagai narasumber. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa kopi Bengkulu tidak hanya berbicara mengenai produksi di tingkat kebun, tetapi juga tentang kualitas, kesinambungan pasokan dan kebutuhan pasar.
Di sekitar lokasi acara, pelaku UMKM juga memamerkan berbagai produk olahan daerah, mulai dari kopi, gula aren hingga makanan khas. Pengunjung dapat menikmati kopi yang diracik barista profesional menggunakan biji kopi produksi Kepahiang.
Momentum semakin semarak ketika Wakil Gubernur Bengkulu Mian bersama anggota DPR RI daerah pemilihan Bengkulu, Eko, tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 WIB.
Pelepasan ekspor tersebut turut dihadiri Bupati Kepahiang Zurdi Nata, Bupati Lebong Azhari, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Rejang Lebong Iwan Badar yang mewakili bupati.
Membangun rantai pasok
Ekspor ke Italia bukan sekadar pengiriman komoditas dari satu daerah ke negara lain. Di baliknya terdapat pekerjaan besar untuk memastikan kopi yang dihasilkan petani memenuhi standar pasar internasional secara konsisten.
Tiga daerah sentra kopi, yakni Kepahiang, Lebong dan Rejang Lebong, sepakat memperkuat pengembangan komoditas tersebut. Kerja sama diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga penyediaan bibit berkualitas dan penerapan teknik panen yang memenuhi standar ekspor.
Langkah tersebut penting karena pasar ekspor membutuhkan kepastian pasokan.
Kopi berkualitas ekspor tidak cukup tersedia hanya ketika ada momentum pengiriman. Produksi harus terjaga secara berkala sehingga permintaan dari negara tujuan dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Bagi Bengkulu, persoalan itu menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar. Potensi produksi kopi daerah cukup besar, tetapi rantai pasok dan akses pasar ekspor harus terus diperkuat.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat mengatakan merealisasikan ekspor kopi Bengkulu ke Italia bukan perkara mudah. Sejumlah persyaratan harus dipenuhi, terutama menyangkut kualitas produk dan dukungan berbagai pihak.
Menurut dia, keberhasilan ekspor tersebut merupakan hasil sinergi banyak pihak, termasuk Bea Cukai dan PT Pelindo Bengkulu sebagai pengelola fasilitas kepelabuhanan.
Karena itu, momentum ekspor perdana tersebut harus dijaga agar tidak berhenti sebagai pengiriman sesaat.
“Kami yakin kualitas kopi Bengkulu tidak perlu diragukan dan telah memenuhi standar internasional. Sehingga bukan tidak mungkin kopi Bengkulu akan menguasai pasar global,” kata Wahyu.
Mengembalikan identitas kopi Bengkulu

Ekspor ke Italia juga membawa makna lain bagi Bengkulu. Selama puluhan tahun, kopi yang diproduksi petani Bengkulu banyak dipasarkan ke wilayah Lampung dan Sumatera Selatan melalui jaringan pedagang dan pengumpul.
Kopi tersebut kemudian masuk ke rantai perdagangan dari daerah lain. Akibatnya, meskipun komoditasnya berasal dari kebun petani Bengkulu, identitas asal daerah dalam perdagangan ekspor tidak selalu melekat pada Bengkulu.
Kondisi tersebut membuat muncul anggapan bahwa Bengkulu memiliki komoditas, tetapi daerah lain memperoleh nama dari perdagangan dan ekspornya.
Padahal, kopi yang diperdagangkan tersebut berasal dari hasil perkebunan masyarakat Bengkulu.
Situasi itu berbeda dengan masa sebelum era reformasi. Ketika itu, kopi Bengkulu pernah diekspor secara langsung ke sejumlah negara di Eropa dan Asia melalui Pelabuhan Pulau Baai.
Rantai ekspor tersebut kemudian terhenti setelah perubahan struktur perdagangan komoditas kopi di daerah.
Kini, jalur itu kembali dibuka.
Ekspor perdana kopi Bengkulu ke Italia sebanyak 19,2 ton menjadi penanda bahwa komoditas perkebunan tersebut kembali memiliki peluang untuk dipasarkan langsung ke pasar global dari daerah asalnya.
Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana mengirim kopi ke luar negeri, melainkan bagaimana menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan.
Sebab, keberhasilan satu kali pengiriman belum cukup untuk membangun pasar ekspor. Pasar global membutuhkan kepastian volume, kualitas, standar produksi, serta konsistensi pengiriman.
Karena itu, penguatan produksi di tingkat petani, pembinaan kualitas, ketersediaan bibit unggul, hingga dukungan infrastruktur logistik menjadi bagian penting dari perjalanan panjang kopi Bengkulu menuju pasar dunia.
Jika mata rantai tersebut mampu dijaga, ekspor ke Italia bukan hanya menjadi catatan sejarah, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi kopi Bengkulu untuk kembali hadir secara berkelanjutan di berbagai pasar internasional.
Sementara itu, Waguh Bengkulu Mian memberikan apresasi kepada Bank Indonesia Bengkulu atas terlaksananya ekspor kopi Bengkulu ke Italia sebanyak 19,2 ton senilai Rp 1,2 miliar.
“Pemprov Bengkulu mengapresiasi Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu yang menginisiasi sejumlah UMKM melaksanakan ekspor kopi ke Italia. Kerja keras dan dukungan dari Bank Indonesia Bengkulu, kita bisa mengekspor kopi ke Eropa, khususnya Italia.
Mian berharap ekspor kopi Bengkulu dapat dilakukan secara rutin okeh pelaku UMKM dan eksportir kopi yang ada di daerah ini dengan volume yang lebih besar lagi.
Dengan rutinya ekspor kopi Bengkulu tidak hanya meningkatkan pendapatan UMKM saja, tapi juga pemasukan devisa untuk Bengkulu bertambah dari selama ini.
Hal senada diungkapkan Bupati Kepahiang, Zurdi Nata. Ia mwngucapkan terima kasih kepada Pimpinan Bank Indonesia Bengkulu latas terlaksananya ekspor kopi dari Kepahiang ke Itali sebanyak 19,2 ton senilai 7000 dolar AS
“Terima Kepalla Perwakilan BI Bengkulu, Pak Wahyu atas kerja keras dan dukunganya sehingga kopi Kepahiang tembus pasar Italia. Kami akan bekerja keras agar ekspor kopi dari terus berlanjut ke banyak negara du belahan bumi ini,” ujar Bupati Nata yang juga toke kopi terkenal di Bengkulu.
Kegiatan pelatihan wartawan ekonomi yang digelar KPwVBI Bengkulu selain menyampaikan materi juga praktik langsung belajar menjadi Barista dan kegiatan diakhir belajar menembak di Batalyon Brimob Curuo, Rejang Lebong.(HB/Usmin)
Editor. : Usmin








